Friday, November 13, 2015

Contoh Cerpen tentang Putus Sekolah, Mentari Akan Terus Bersinar

Contoh Cerpen tentang Putus Sekolah, Mentari Akan Terus Bersinar Oleh Amaliatul Husna - Berjalan menyusuri jalan kota menuju pasar tradisional disudut jalan. Suara bising pembeli dan penjual mulai terdengar ditelinga seorng remaja yang berdiri ditengah kerumunan orang. Tangan kecilnya mulai mengangkat ranjang- ranjang sayur dari pemasok besar menuju penjual- penjual kecil.

Mengangkat barang- barang tanpa kenal lelah, seperti terik mentari muncul begitu panasnya, sehingga membuat lelah badan ini semakin terasa dan membuat badan lelahnya mengucurkan keringat. Semua itu ia lakukan untuk membantu ayahnya mendapatkan rupiah. Ayahnya sudah bekerja dan berangkat lebih pagi dari pada gadis itu. Sedangkan gadis itu harus berangkat agak siang, sebab ia harus mengerjakan tugas rumah yang biasa dikerjakan oleh seorang ibu.

“ cepat ambil barang yang disana, jangan lelet, kamu ini niat bantu ayahmu atau tidak?” ucap laki- laki yang umurnya hamper setengah abad.
“ Iya, yah aku sungguh niat untuk membantu ayah.” Ucap gadis kecil itu
“ya harus sungguh kalau tidak kau tak makan hari ini! Sudahlah cepat sana ambil barang itu, jangan hanya bicara saja buktikan kalau kau bisa beringankan beban ayahmu. Jangan jadi anak yang menyusahkan” ucap ayah gadis itu dengan sinisnya.

1) Cerpen religi terbaru mahkota untuk orangtua
2) Cerpen tentang motivasi belajar
3) Cerpen motivasi singkat ada kemauan

Gadis kecil itu selalu menuruti perkataan ayahnya. Tapi ayahnya tidak pernah membenarkan apapun yang dilakukan gadis itu, bahkan selalu membesar- besarkan masalah kecil yang diperbuat oleh gadis itu. Tak seindah mentari di langit yang mampu bersinar untuk semua mahluk . kelahirannya tak pernah inginkan oleh ayahnya, bagi ayahnya mempunyai anak perempuan hanya menyusahkan kehidupannya. Tapi apa boleh buat Tuhan telah menakdirkan seorang gadis kecil, mungil, dan sangat menggemaskan bagi lelaki itu yang harus ia besarkan sendiri. Mentari, nama itu adalah kado dan kenangan terakhir yang diberikan oleh seorang ibu, yang tak pernah membesarkannya. Yang meninggalkannya ketika gadis itu masih menginginkan dekapan kehangatan seorang ibu. 

Ucapan dari ayahnya tak membuat heran gadis itu, kalimat yang sering ayahnya lontarkan, yang selalu merendahkannya. Sejak dulu sampai sekarang ia sudah berumur 19 tahun. Sekalipun ia tak pernah dipuji oleh ayahnya, ingin ia dipuji, dibanggakan, dan disanjung oleh ayahnya bahkan oleh semua orang.

“ kamu ini bisa kerja yang benar tidak? Mata kamu ditaro mana, sayurnya jadi kemana- mana ini.mkalo ketahuan bos bisa dimarahin.” Ucap ayah mentari dengan marahnya melihat mentari membawa ranjang sayur tumpah berserakan akibat badan yang lelah dan lesu.

“ maaf yah, aku capek” ucap mentari mengeluh
“ apa? Capek? Baru begini saja kamu mengeluh. Lihatlah anaknya pak mustofa dia bisa kerja dan sekarang dia bisa mencukupi kebutuhan orang tuanya, bisa dibanggakan.” Ucap ayahnya yang membeda- bedakan mentari dengan anak lain. Lalu ia pergi untuk mengmbil ranjang sayur kembali tanpa menghiraukan mentari.

Sedih mendengar perkataan ayahnya. Seolah- olah ia anak yang tak bisa dibanggakan. Mentari hanya bisa menangis dengan tetesan air mata seperti butiran mutiara yang lurus jatuh meluncur dari pipi manisnya. Dengan tangannya mengambil sayur yang berserakan ditanah. Tak lama kemudian bos dari pemasok sayur datang. Merah padam muka si bos melihat sayur yang berantakan akibat mentari. 

“ ya ampun ini kenapa sayurnya bisa berantakan seperti ini. Gimanasih kerjanya, kalo begini sayurnya jadi rusak. Dasar anak tidak bisa di andalkan” ucap bos dengan amarahnya.
“ maaf bu, tadi saya tersandung. Maaf” ucap mentari memohon maaf.
“ makanya mata dipake, kamu mau saya pecat dengan ayahmu juga, karena kerjamu tak becus?” ucap bos itu.

Dengan tiba- tiba ayah mentari datang
“ jangan bu jangan. Saya mohon jangan dipecat.” Ucap ayah mentari memohon.

“bilangin sama anak kamu kalu kerja yang bena. Punya anak bukannya nambah rejeki malah makin susah hidupmu. Jika ku pecat kalian lalu kalian nanti mau makan pakai apa, sudahlah kasian aku melihat kalian.” Ucap bos itu merendahkan mentari dengan sinisnya, lalu pergi begitu saja.
“ puas melihat ayahmu ini dipermalukan? Dasar anak nyusahin, kerja yang benar.” Ucap ayah mentari dengan kecewa terhadap mentari.

Sungguh sedih mendengar perkataan orang lain terhadapnya, kekecewaan ayah terhadapnya, batin ayah yang tersakiti akibatnya.
“ maafkan aku yah, ini semua memang salah ku” ucap batin mentari dengan menangis tersedu- sedu menganggap dirinya tak berguna bagi ayahnya bahkan untuk semua orang.

Hari mulai sore, semua penjual membereskan barang mereka masing- masing untuk pulang kembali ke rumah dan pembelianpun makin sepi.begitupun dengan mentari pulang terlebih dulu dari ayahnya, karena mentari tahu ayahnya tak pernah mau pulang bersamanya.

Dengan badannya yang lelah, dengan langkah kaki yang berat ia menuju rumah yang hanya sepetak ia tinggali bersama ayahnya. Walaupun hanya sepetak, rumah itu adalah harta yang paling berharga, hanya rumah sederhana ini yang bisa melindungi badan mereka dari dinginnya hujan dan panasnya terik matahari.

****

Sejujurnya mentari tak mau hidaup seperti ini. Ia ingin hidup seperti anak diluar sana yang semua keinginannya terpenuhi, dapat dibanggakan, tanpa orang tuanya membedakan. Bisa bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi, bersenang- senang dan lain-lain. Mentari ingin sekali kulyah melanjutkan sekolahnya, tapi karena factor ekonomi yang tak mendukung mentari mengurungkan niatnya. Tapi mentari yakin dia akan bisa merubah hidupnya menjadi lebih baik - Cerpen tentang Anak Putus Sekolah. Karena Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang jika orang itu tidak merubah nasibnya sendiri. 

Dengan bekal pelajaran pada waktu ia sekolah dulu. Dengan kemampuannya, mentari mendirikan sepetak tempat untuk membagi ilmu yang ia dapatkan pada waktu sekolah dulu kepada anak- anak yang tidak mampu mengenyam pendidikan, yang tak merasakan indahnya sekolah, yang tak merasakan nikmatnya duduk dibangku sekolah. Tanpa meminta balasan kepada anak- anak itu, mentari ikhlas membagi ilmu kepada anak- anak yang memang sudah menjadi hak anak- anak itu untuk mendapatkan ilmu yang lebih banyak lagi. 

Dengan anak-anak ini biasa ia mengajar dengan ceria tanpa kenal lelah, tanpa memikirkan beban hidupnya. Hanya bersama anak- anak ini sejenak ia tak memikirkan kehidupannya yang selalu diremehkan. Dengan anak- anak ini dia akan membuktikan kepada semua orang dia bisa bangkit dari keterpurukan hidupnya. Mentari biasa mengajari anak- anak dihari libur pasar, pada saat tak bekerja. Pasar hanya ada pada hari minggu, jadi mentari lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak- anak ini walaupun ayahnya tak mengizinkan.

***

Pagi hari ayam mulai berkokok. Semua orang mulai membuka mata, begitupun dengan mentari, bangkit dari tidur yang lelap dengan ditemani dinginnya malam, mulai mengibaskan selimut untuk bangkit dari tempat tidur,bersiap- siap untuk beraktivitas, seperti biasanya. Mengerjakan segala tugas rumah yang biasa dikerjakan oleh seorang ibu. Setelah sudah mandiri sampai Ia terbiasa menggantikan segala tugas seorang ibu. Setelah segala urusan selesai, tiba waktunya mentari untuk mengajar anak- anak, biasa mentari mengajar disaat hari mulai sore. Karena jika pagi sampai siang hari kebanyakan anak- anak mencari uang untuk membantu orang tuanya dengan mengamen dan sebagainya. Mentari bersiap- siap untuk berangkat.

“ mau kemana kamu?” ucap ayahnya melihat mentari menata buku untuk bahan mengajarnya.
“ em… mau itu ayah…” ucap mentari dengan ragu dan rasa takut jika dimarah
“ mau ngajarin anak- anak jalan itu lagi. Apa gunanya, sudah ayah bilang tidak usah kamu ajarin anak- anak tak berguna itu.” Ucap ayah mentari tak mengizinkan mentari mengajar. 
“ tapi yah anak…” belum selesai mentari bicara ayahnya sudah menjawab.
“ alah selalu saja kau membela anak- anak itu. Hanya menghabiskan tenaga saja. Lebih baik kamu cari kerja yang menghasilkan uang.” Ucap ayah mentari.

“ aku tak merasa keberatan untuk mengajarkan ilmu kepada mereka yah. Apa salah anak- anak itu jika mereka ingin mendapatkan ilmu, itu sudah menjadi hak mereka. Jika bukan kita orang- orang yang berilmu siapa lagi?” ucap mentari membela anak- anak.

“ sudah lama kamu mengajar, tapi tetap saja tak menambah penghasilan - Cerpen Putus Sekolah, dibayar tidak, menghabiskan waktu saja. Lihatlah anaknya pak kadir Ia mengajar jadi guru dapat penghasilan digaji. Sedangkan kamu menyusahkan diri saja.” Ucap ayahnya yang membedakan mentari dengan anak- anak lain.

“ cukup yah, cukup ayah membeda-bedakan aku dengan anak lain. Aku akan usaha agar ayah dan aku tak hidup seperti ini lagi. Aku janji yah” ucap mentari membela diri dan meyakinkan ayahnya.

“ kamu anakku tapi kamu tidak bisa seperti anak yang bisa dibanggakan orang tua. Kamu hanya anak yang menyusahkan. Usahamu kapan berhasil? Mungkin tidak akan berhasil, hanya ucapan saja tidak ada bukti” ucap ayahnya yang meremehkan mentari, lalu pergi begitu saja.

Mentari meneteskan air mata mendengar perkataan ayahnya, ayah yang tak percaya kepadanya, ayah yang tak mendukung usahanya. Mentari semakin yakin, ia akan berusaha dengan sungguh- sungguh dan kerja keras untuk membuktikan kepada semua orang usahanya akan berhasil. Mentari akan selalu kuat, karena semua butuh proses yang panjang untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, mentari mengusap air mata dan berjalan pergi untuk mengajari anak- anak dengan menghiraukan perkataan ayahnya yang tak mengizinkannya. Mentari berjalan sambil melamun, Ia masih teringat perkataan ayahnya yang selalu menyakiti batinnya. Sesekali tetesan air matanya keluar lalu ia usap. Di tengah perjalanan mentari merasa ada yang mengikutinya. Sesekali Ia tengok kebelakang tak ada siapa-siapa, mungkin hanya perasaan mentari saja.

Setelah sampai mentari disambut anak- anak
“ kak mentari sudah datang” ucap salah satu anak dengan cerianya. 

Mentari mulai mengajar dengan sabar, dengan keceriaan tanpa ada ketegangan. Setelah selesai, waktunya mentari kembali pulang ke rumah. Tapi tiba- tiba ada yang mendatangi mentari, ibu- ibu dengan penampilan seperti orang kaya, memakai kalung emas, cincin emas, gelang emas, dan membawa dompet. Mentari tak mengenalnya 
“ nak, boleh ibu bicara sebentar?” ucap ibu itu kepada mentari
“ Iya boleh bu” ucap mentari menjawab

Hari ini adalah hari yang tak terduga bagi mentari. Ibu yang menghampirinya bernama Ibu Ina yang menawarkan pekerjaan untuk menjadi guru privat bagi anaknya. Ternyata ibu Inalah yang sedari tadi mengikutinya, melihat Mentari Ia terkesan dengan mentari yang sabar mengajari anak- anak dan ikhlas tanpa meminta balasan.

***

Setelah mentari bekerja beberapa bulan ditempat Ibu Ina. Ibu Ina melihat kerja kerasnya, anak yang harusnya melanjutkan sekolah, tapi karena faktor ekonomi Ia lebih baik mencari uang untuk hidup sehari- hari. 

“ Mentari apa kamu punya keinginan untuk melanjutkan sekolahmu kejenjang yang lebih tinggi?” ucap ibu Ina
“ punya bu, tapi tak mungkin saya melanjutkan”ucap mentari putus asa
“ di dunia ini taka da yang tak mungkin, jika ada usaha dan niat yang kuat. Jika kamu ingin melanjutkan. Ibu akan membiayaimu kuliah. Tapi kamu harus bersungguh- sungguh dalam belajarmu.” Ucap ibu ina menawarkan kuliah untuk mentari

“ ibu serius?” ucap mentari senang
“ Ia ibu serius, akan membiayaimu kulyah. Tapi jangan mengecewakan ibu, kamu harus bisa berusaha kalau kamu bisa.” Ucap ibu ina meyakinkan mentari 
“ terimakasih bu, mentari janji tidak akan mengecewakan ibu.” Ucap mentari gembira.

Mentari sangat bersyukur, Tuhan seperti sudah menurunkan malaikat kepadanya, mengabulkan segala doa mentari selama ini.

***

Setelah 4 tahun mentari kulyah, belajar dengan sungguh- sungguh agar tak mengecewakan ibu Ina yang sudah Ia anggap seperti ibunya sendiri dan ayahnya. Tiba waktunya Ia wisuda, ayahnya pun datang menghadiri acara wisuda anaknya beserta ibu Ina. Mentari adalah anak yang pintar dan cerdas. Dia salah satu anak yang berprestasi diperkuliahannya.

Contoh Cerpen tentang Putus Sekolah, Mentari Akan Terus Bersinar
Foto: Ilustrasi/informasipendidikan.com

“ maafkan ayahmu ini yang selalu berlaku kasar dan tak pernah mendukung usahamu. Saat ini kamu benar- benar telah membuktikan kepada ayah, kamu adalah anak kebanggaan ayah” ucap ayah mentari bangga sambil memeluk mentari.
“ Iya yah, maafkan aku juga yah, jika selama ini aku hanya menyusahkan.” Ucap mentari dengan membalas pelukan ayahnya.

***

Setelah mentari selesai kulyah - Contoh Cerpen tentang Putus Sekolah, Mentari Akan Terus Bersinar, saat ini mentari bekerja disalah satu perusahaan ternama di Jakarta dengan penghasilan yang lumayan besar. Mentari dapat membeli rumah yang layak untuk tempat tinggal bersama ayahnya, dan dapat memberi bantuan kepada anak- anak yang dulu Ia didik sewaktu masih susah, mentari tak akan melupakan mereka. 

Sekarang, saat ini dan seterusnya mentari kan bersinar dengan mudah, bak mentari diatas langit dengan cahaya gemilang prestasinya dan kerja kerasnya sudah terbayarkan. Saat ini ia bukan lagi anak yang menyusahkan, tapi anak yang dibanggakan. Mentari tak lagi dibeda-bedakan dengan anak lain, tapi dia sudah menjadi contoh anak yang sukses, contoh anak yang dibanggakan, karena mentari akan terus bersinar.

Contoh Cerpen tentang Putus Sekolah, Mentari Akan Terus Bersinar Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Duwa Ananda