Thursday, June 14, 2012

Naskah Drama 5 Pemain (Bagian I)

Berikut ini adalah contoh naskah drama 5 pemain (bagian I). Karena naskah ini lumayan panjang makanya naskah drama 5 orang pemain ini dibagi menjadi beberapa bagian. Semoga tidak terlalu menyusahkan bagi rekan semua.


Download




LAKON
FAJAR SIDDIQ


KARYA EMIL SANOSSA
  

DRAMATIC PERSONAE
MARJOSO 
SERSAN
AHMAD
H. JAMIL
ZULAECHA


SEBUAH MARKAS GERILYA, TERLIHAT SEBUAH RUANGAN, SATU PINTU, SATU JENDELA SEL, MEJA TULIS DAN DUA KURSI DAN SATU BANGKU, PETI MESIU, HELM DAN RANSEL TERGANTUNG.

MALAM HARI, KEADAAN SEPI, TEGANG, JAUH-JAUH MASIH TERDENGAR LETUSAN TEMBAKAN DAN IRING MUSIK SAYUP-SAYUP INSTRUMENTAL GUGUR BUNGA, KEMUDIAN MUNCUL MARJOSO MEMBAWA SURAT, KEMUDIAN DUDUK MEMBACA. MUNCUL SEORANG SERSAN.

MARJOSO  
Jadi, sudah terbukti dia bersalah.

SERSAN  
Ya, Pak.

MARJOSO  
Tidak berdasarkan kira-kira saja?

SERSAN  
Bukti-bukti telah cukup mengatakan, dan mereka menuntut eksekusi dapat dijalankan sebelum fajar.

MARJOSO  
Menuntut? Kau kira siapa yang bertanggung jawab
di sini?

SERSAN  
Sudah terang! Tapi mereka khawatir, karena ..... karena si terhukum adalah ........

MARJOSO  (cepat)
Adalah kawanku? ...... Anak dari seorang  guru yang kau hormati? Begitu?

SERSAN   
 Maaf, Pak.

MARJOSO (mengeluh)
Mereka pikir, apa aku ini? Mereka pikir dalam hal ini aku masih sempat memikirkan dia,
anak dari seorang guru yang aku hormati. Kalau aku mintakan dia diperlukan dengan baik, itu
adalah haknya sebagai tawanan.

SERSAN   
Maaf, Pak. Kerap kali terjadi.

MARJOSO  
Yaaaaaahh! Kerap kali terjadi. Orang tidak bisa membedakan antara tugas dan perasaan. Bawa dia kemari.

SERSAN  
Siap, Pak!

SERSAN MASUK, MARJOSO MELANGKAH, KEMUDIAN DUDUK. TERDENGAR NYANYIAN DALAM PENJARA. MARJOSO MARAH)

MARJOSO  
Hai! Siapa yang meraung dini hari?

(NARATOR)  
Siapa lagi kalau bukan si Djaelani pemabuk itu!

MARJOSO  
Suruh dia diam.

(Kemudian sersan masuk menghadap marjoso, membawa seorang tawanan, sersan diperintahkan keluar dengan segera. Ahmad  menunggu dengan cemas. Marjoso (menyuruh duduk)

Ahmad, kau tak apa-apa, bukan?

AHMAD  
Mereka bilang, kalau bukan kerena kau, aku sudah di satai. Terimakasih atas kebaikanmu itu.

MARJOSO  
Terimakasih itu tak perlu.

AHMAD 
Baiklah, apa yang akan kau perbuat atas diriku, perbuatlah! Kini aku tawananmu.

MARJOSO  (kata-kata itu menyayat seakan-akan  memisahkan hubungan masa lalu)
Ya ............. kau tawananku.

AHMAD  
Tembaklah! Biar kau puas.

MARJOSO (merasakan itu sebagai sindiran yang tajam)
Itu perkara nanti. Tapi aku ingin mendengarkan dari mulutmu sendiri tentang semuanya ini dulu.

AHMAD  
Apa yang ingin kau dengar?

MARJOSO  
Dengan maksud apa kau kemari?

(Ahmad membisu)

Jawab Ahmad! Hanya itu yang ingin kutanyakan. Aku tidak ingin menanyakan tentang apa-apa yang telah kau perbuat. Aku tidak ingin menanyakan berapa jumlah prajuritku yang gugur terjebak tipu dayaku ....... Jawablah!

AHMAD (tersenyum dingin)
Tidakkah kau tahu, bahwa antara anak dan orang tuanya senantiasa terjalin ikatan yang tak terputuskan?

MARJOSO  
Jangan kau coba mengelak, Ahmad!

AHMAD  (menegaskan suaranya)
Aku ingin menjumpai ayah dan adikku Zulaecha.

MARJOSO  
Tahukah kau tempatnya?

AHMAD    
Tidak.

MARJOSO  
Dari mana kau tahu kalau ayah dan adikmu di sini?

AHMAD  
Dari orang-orang yang pernah datang kemari.

MARJOSO  
Hmmmmm. Sebelum tertangkap kau sudah lebih kurang tiga hari berkeliaran di daerah ini, bukan?

AHMAD  
Tidak! Tepat pada waktu aku sampai, aku terus ditangkap.

MARJOSO  
Jangan bohong, Ahmad!

AHMAD  
Aku tidak bohong.

MARJOSO    
Di mana kau ditangkap?

AHMAD  
Di tengah-tengah bulak.

MARJOSO  
Mengapa kau di sana?

AHMAD  
Aku sedang melepaskan lelah.

MARJOSO  
Melepaskan lelah di tengah-tengah bulak? Ha .... ha ... ha ...

AHMAD  
Aku tersasar. Aku belum pernah memasuki daerah ini.

MARJOSO  
Waktu itu sebuah pesawat capung melayang-layang di atas bulak itu pula, bukan?

AHMAD  
Ya! Tapi itu hanya secara kebetulan.

MARJOSO  
Engkau tidak takut ditembak dari atas, Ahmad?

AHMAD  
Aku takut juga.

MARJOSO  
Mengapa kau tidak berlindung?

AHMAD  
Aku berlindung. Aku rapatkan diriku rapat-rapat ke tanah.

MARJOSO  (mengambil sebuah cermin kecil di atas meja)
Ahmad, ini cerminmu bukan?

AHMAD  (gugup sejurus)
Ya.

MARJOSO  
Hm, pesolek, benar, kau sekarang ...Apa gunanya cermin ini?

AHMAD  
Cermin gunanya untuk mengaca.

MARJOSO  
Ada sisirmu, Ahmad? Kau bawa sisir?

AHMAD  
Hilang!

MARJOSO  (menatap Ahmad, tenang)
Ya, Ahmad. Mengapa engkau bohongi aku? Baiklah kau takut pesawat capung itu menembakmu, bukan?

AHMAD (tersadar, akan masuk perangkap)
Maksudku ... akan ... aku tidak begitu takut.

MARJOSO   Mengapa?

AHMAD  
Karena ....... karena .......

MARJOSO  
Karena apa?

AHMAD  
Karena itu hanya pesawat capung.

MARJOSO  
Tapi engkau tiarap juga, bukan?

AHMAD (tak segera menyahut)
.....................Ya.

MARJOSO  
Dan engkau keluarkan cerminmu pada waktu itu. Barangkali kau pikir itu adalah kesempatan yang baik bagimu untuk melihat mukamu kena debu atau tidak. Kemudian orang melihat pantulan cerminmu bermain ke kiri dan ke kanan

(Ahmad tetap membisu)

Mengapa begitu, Ahmad?

AHMAD  
Aku tidak tahu

PERASAANNYA CEMAS SEKALI

MARJOSO  (marah)
Dusta! Dusta kau!!!

AHMAD  (tersentak)
Engkau toh tahu aku akan berdusta.

MARJOSO (merendah kembali)
Mengapa engkau dustai aku, Ahmad?

AHMAD  
Karena aku senang untuk berbuat begitu.

MARJOSO (mula-mula perlahan kian lama kian berkobar)
Engkau binatang yang tak perlu di beri ampun. Bukankah engkau yang membakar pesantren
ayahmu?

AHMAD  
Tidak! Tidak ........ aku tidak membakarnya.

MARJOSO (mengatasi suara Ahmad)
Engkau tak membakarnya. Tapi engkau biang keladi yang menyebabkan pesantren itu terbakar. Pesantren yang mewarisi tradisi turun-temurun. Mulai dari buyutmu, kakek-kakekmu sampai ke ayahmu. Pesantren tempat ayahmu menempa pemuda-pemuda yang bertanggung jawab akan hari depan agama dan tanah airnya, bangsanya. Ahmad ..... engkau tidak menyesali semua itu?

(terdiam sebentar-sebentar menarik nafas).

 Oh, Ahmad, tidakkah engkau takut akan siksa Tuhanmu? Bagaimana kelak dosamu akana membakar dirimu?

AHMAD  
Itu tanggunganku. Resiko!

MARJOSO  (ke depan)
Oooooooo, jiwa yang tak lebih berharga dari pada jiwa seekor anjing. Berapa banyaknya air
mata yang harus dicucurkan para ibu untuk mengenang murid-murid ayahmu yang hangus
terbakar bersama pesantren yang dicintainya, Ahmad.

AHMAD (tegas)
Tapi, siapakah yang akan mencucurkan untuk rubuhnya ibuku? Siapa yang suka berkata
”Akan kutuntut kematian ini!” Siapa yang akan  membalas dendamnya?

MARJOSO  
Diam kau!

(Ahmad tertunduk).

Angkat mukamu,
pengkhianat! Pandanglah aku untuk kali yang  penghabisan. Karena malam ini juga rakyat menuntut darahmu.

*Bersambung*

Download

Gimana, menarik bukan? Nah, untuk lanjutan naskah dramanya silahkan rekan lihat di Naskah Drama 5 Pemain (Bagian II) atau bila kalian ingin melihat contoh naskah lainnya silahkan lihat di "Kumpulan Naskah Drama Terlengkap"