Friday, September 9, 2016

Terpaksa Tinggal di Rumah Hantu

Contoh Cerpen Horor tentang Hantu - Tawa yang begitu ceria mewarnai perjalanan kami bertiga. Tak lupa sebuah musik juga turut memeriahkan perjalanan kami yang jauh ini. Sedangkan lalu lintas yang begitu lancar membuat mobil kami melaju dengan cepat. Kami semua hendak pergi liburan.

Jalan halus sudah habis, kini tinggal mobil kami melintasi jalan yang sepi dan jauh dari penghuni. Temanku yang menyetir mematikan musik dan berjalan dengan begitu tenang.


“Jalannya kok sepi sekali Dang”, ungkap temanku. “Iya ini jalan satu-satunya untuk bisa sampai di tempat tujuan”, uangakpnya sambil menyetir. Sepanjang jalanan aku melihat pohon-pohon besar yang menjulan dan tidak ada satupun rumah yang berdiri di sini.

Sementara itu tak jauh dari tempat tersebut aku melihat perkebunan warga yang menhampar luas. Dan sebuah rumah tua yang tidak ada penghuninya. Kami berjalan terus dan dengan santai. Hingga akhirnya mobil kami mendadak berhenti. “Kenapa Dang”, ungkapku.

“Enggak tau Fer, coba tolong lihat bannya”, ungkap Dadang. Aku turun dari mobil dan meilhat bannya. Aku melihat satu-persatu bannnya. Ternyata ban depan bocor, aku berkata,”Bannya bocor Dang”.

“Aduh, enggak bawa ban serep lagi”, ungkap Dadang dengan begitu kecewanya.
“Terus bagaimana Dang..?”, ungkapku dan kedua temanku.
“Terpaksa kita bermalam di sini”, ungkap Dadang.

“Itu di sana ada rumah, bagaimana kalau kita bermalam di rumah tersebut”, ungkap Rijal salah satu temanku. “Boleh, bawa karpetnya buat kita tidur”.

Kami berjalan menuju rumah kosong tersebut. Terlihat begitu menyeramkan rumah tersebut karena tanpa sebuah penerangan dan rumput liar yang sudah banyak tumbuh di halamannya. Kami membuka pintu rumah tersebut dan masuk. Kami membersihkannya terlebih dahulu setelah itu karpet di pasang dan siap untuk tidur.

Kami membuaka karpetnya dan kemudian menatanya dengan begitu rapih. Setelah itu kami mulai membaringkan badan kami dengan begitu nikmat. Ketika hendak tertidur pintu yang tanpa sebab tertutup dengan sendirinya dan membuat kami kaget.

Kami membuka pintu tersebut namun pintu tersebut tidak bisa di buka. “Aduh bagaimana kita ini”, ungkapku kepada teman-temanku. “Aku enggak tau, sudah tenang saja, kita istirahat saja dulu baru besok kita pikirkan caranya”, ungkap Dadang.

Kami berbaring lagi meski dengan sedikit ketakutan. Aku mencoba tertidur dan tak lama kemudian ada suara tepuk tangan dari luar. Suara tersebut begitu bergemuruh dan layaknya begitu banyak orang yang ada di luar.

Aku dan temanku berdiri dan berjalan mengintip dari jendela. Tetapi suara tepuk tangan berhenti dan tidak ada sesorang satupun. Aku berbaring lagi di samping teman-temanku. Aku mulai memejamkan mata. Tak lama kemudian ada suara anak kecil sedang bermain di halaman depan.

Dengan rasa penasaran yang begitu mendalam aku berkata,”Kalian dengar tidak ada suara anak kecil sedang bermain di luar”. “Iya si kami dengar, tetapi siapa gerangan yang main jam segini”, ungkap mereka.

Aku berdiri lagi dan mencoba melihatnya dari jendela. Setelah aku melihat dari jendela ternyata tidak ada apa-apa.

“Sepertinya tempat ini memang berhantu, masa 2 kali aku di kerjain”, ungkapku dan kembali berbaring. “Ya sudah lah, biarkan saja tidur aja lagi”. ungkap dadang.

kami memejamkan mata lagi meskipun belum ngantuk. Tak lama kemudian semua temanku tertidur, sementara aku belum bisa tidur sendiri. Aku terus memikirkan tentang kejadian yang tadi aku alami, sambil melihat genting rumah tersebut.

“Tol.. tol.. tolong..!”, ungkapku melihat kepala tanpa badan yang begitu meenyeramkan berada di atas genting.

Dia tertawa dengan begitu mengerikannya dan berulang kali menunjukan mukanya yang sangat mengerikan. Muka tersebut tanpa tubuh hanya kepala dan sebuah bagian jeroan.

“Bangun..!”, ungkapku sambil menggoyang-goyang teman-temanku yang sedang asyik tetidur. Tak lama kemudian temanku terbangun. Aku menutup mukaku dengan posisi sujud karena tidak kuasa melihat sosok yang begitu menyeramkan.

“Ada apa..?”, ungakap teman-temanku.
“Itu di atas ada kepala berjalan”, ungkapku dengan begitu ketakutannya.
“Mana tidak ada”, ungkap Dadang.

Dengan takutnya aku mengankat kembali kepalaku dan melihat ke atas. Ternyata memang mahluk tersebut sudah pergi. Namun tetap saja keberadaan mahluk tersebut membuatku takut berada di tempat ini.

“Dor”, suara pintu yang tiba-tiba membuka sendiri dan membuat kami kaget.
“Kayaknya mending kita keluar dan tidur di mobil deh”, ungkapku kepada temanku.
“Iya ayok”, ungkap teman-temanku.

Kami membawa semua peralatan kami dan hendak keluar dari ruamha ini. Ketika hendak keluar tiba-tiba pintu tertutup sendiri. Kami mencoba membukanya tetapi tidak bisa, pintu ini  seperti terkunci dari luar. Hal ini menambah kepanikan kami yang ada di rumah ini. “Ampun, tolong jangan ganggu kami”, ungkap kami secara bersama.

Hingga tak lama kemudian ada suara orang tertawa dengan begitu mengerikan. Suara tersebut membuat bulu kuduk kami berdiri dan kemudian berteriak dengan sekencang-kencangnya. Kami terus mencoba membuka pintu ini dengan segenap tenaga yang kami punya. Tetapi pintu tidak juga bisa di buka. Sementara itu kami sudah di hantui dengan suara yang sangat mengerikan yang ada di rumah tersebut.

Hingga akhirnya kami semua syok dan pingsan ketika tidak kuasa menghadapi ini semua. kami terbangun ketika hari sudah siang. Dan ajaib pintu ini terbuka sendiri, aku dan teman-temanku bejalan menuju mobil. Dengan bantuan warga kami mendapat petunjuk tambal ban terdekat. kami memperbaik ban kami dan setelah itu melanjutkan perjalana kami.

Pengalaman yang begitu mengerikan bisa tidur di rumah yang berhantu tersebut. Aku tidak mau lagi tidur di rumah tersebut. Dan hari ini bagaiman caranya aku harus bisa sampai tujuan dan akan kupastikan mobil ini tidak akan mengalami masalah lagi. Agar pengalaman tidur di rumah berhantu tidak terluang kembali.

Kami melanjutkan perjalanan kami dengan sisa waktu yang kami punya. Dengan begitu tergesa-saganya kami mengendarai mobil dan berharap bisa sampai sebelum malam datang. Hingga akhirnya sampailah kami di jalan yang halus lagi. Kini hati kami tenang karena tidak melewati jalan yang mengerikan lagi.

“Ini baru jalan”, ungkapku kepada temanku.
“Emang yang tadi bukan jalan”, ungkap Dadang.
“Bukan itu si jalannya jin dan setan, jelek, sepi, serem lagi”, ungkapku.
“Hahahah”, tertawa.

Dadang menambah kecepan mobil yang kami naiki, sehingga tampak perut kami seperti tertinggal ketika di tanjakan dan turunan. “Pakai sabuk pengamannya ya”, ungkap Dadang dan terus memutar setir ke kanan dan ke kiri.

Sementara itu kami dengan sigapnya langsung memakai sabuk pengaman kami. Kini kami siap untuk sampai tujuan sebelum malam datang.

Tak lama kemudian kami melintasi jalanan yang bagus dan menanjak serta berkelok-kelok. Meski sedikit menyeramkan tetapi pemandangan di sini begitu indah. Banyak sekali pepohonan yang menjulang tinggi dan sangat hijau. Pemandangan ini seoalah menjadi pengobat nasib apes kami yang kami alami di rumah hatu.

--- oOo ---

Terpaksa Tinggal di Rumah Hantu Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Duwa Ananda