Saturday, September 10, 2016

Hari Bangkitnya Pocong

Contoh Cerpen Horor tentang Pocong - Malam begitu dingin, sementara itu aku sedang duduk di depan rumah sambil memikirkan kekasihku. Begitu gelap suasana tidak ada bulan yang menyinari. Sementara bintangpun tidak jua datang untuk menghiburku yang sedang sendiri. Segelas kopi inilah yang menemaniku hingga selarut ini di pohon yang rindang di depan rumahku.


Tak lama kemudian ayah dan ibuku datang dan menghampiriku di tempat duduku. Dia ikut duduk denganku dengan membawa gelas yang berisi kopi. Kami minum kopi bersama, dan kini suasana lebih hangat di banding dengan tadi ketika aku sedang termenung sendiri. Kini sedikit ada sebuah keceriaan di banding ketika aku sendiri tanpa seorangpun yang duduk di sampingku.

“Kamu mikirin apa si Rob..?”, ungkap ibuku sambil melihatku dan memegang gelas.
“Aku sedang memekirkan kekasihku ma”, ungkapku kepada ibuku.
“Temuilah kenapa diam di sini saja”, ungkap ibuku.

“Iya ini sudah malam ma, masa aku ke sana sekarang, bisa-bisa aku di sangka maling ma”, ungkapku sambil sedikit bercanda. “Hehehe”, ibuku tertawa ketika melihatku berkata demikian.

“Malam semakin larut tapi kehangatan keceriaan keluarga kami terus menyelimuti kami. Begitu indah malam ini bisa bercanda tawa dengan keluargaku, meskipun didalam hati aku merindudukan kekasihku. Aku duduk sambil mengangkat kakiku ke atas kursi. Kakiku sedikit pegal ketika duduk kaki berada di bawah.

Sementara itu ayah dan ibuku sedang melihta malam yang begitu gelap tanpa bulan dan bintang ini. Ibuku melihatku yang seang menaikan kaki ke atas kursi dan berkata,”Ke dalam yuk, ini sudah malam”, ungkap ibuku. “Ayok”, ungkapku dan ayahku.

Aku mulai berdiri dan bergegas untuk masuk ke rumah. Kami berjalan dengan begitu santai dengan keluargaku. Tidak tahu mengapa bulu kududkku tiba-tiba merinding seperti ada yang meniup, aku sedikit mempercepat langkahku dan menghampiri ayah dan ibuku yang lebih dulu di depan.

“Kamu kenap Robi lari-lari gitu “, ungkap ayahku melihatku begitu panik.
“Enggak tau yah tiba-tiba bulu kuduku merinding”, ungkapku berjalan di depan ayahku.
“Emang ada apa..?, enggak ada apa-apa kok”, ungkap ayahku samabil melihat kebelakang.
“Iya aku juga enggak tau kenapa, mungkin karena malam kali  ya”, ungkapku.
“Iya, ya sudah kamu cepat masuk abis itu tidur, jangan lupa untuk beroda”, ungkap ayahku.

Aku masuk  rumah dan begegegas untuk pergi ke kamar. Aku langsung tidur dengan begitu gelisah dan badan yang dingin. Aku tidak tahu kenapa badan dan perasaanku bisa segelisah ini. Aku tidur dengan begitu terus gelisah, dan mencoba memjamkan mata. Semnetara  itu aku terus terfikirkan ketika aku di luar, yang tiba-tiba buluku merinding, siapakah-kira-kira ungkap hati yang bertanya.

Angin kini  berhembus kencang dan meniup kordenku, smentara itu aku bertambah panik, karena tadi tidak ada angin kenapa sekarnag ada angin. Aku berdiri sejenak dan menutup jendelaku. Sebelum menutup jendela aku melihat ke luar dan kurasakan tidak angin sama sekali. “Kenapa bisa begini ya”, ungkapku dalam hati kecil.

Aku menutupnya dan kembali ke kasur. Aku menarik selimutku dan menutupi tubuhku serta kepalaku. Aku tidur dengan terbungkus selimut yang tebal dan memulai mencoba memejamkan mata. Ketika angan sudah mulai memasuki mimpi dan pikiran dunia mimpi sudah tergambar, dan pocong jelek menakudkan muncul di alam fikiranku.

Wajahnya begitu mengerikan, penuh darah dan nanah, sedang matanya bercahaya merah. Aku langsung berteriak dengan begitu kencangnya, karna tak kuasa melihat sosok yang mengerikan di dalam fiiranku. Aku masih tidak tahu mengapa bayangan sosok mengerikan hadir di dalam pikiranku. Aku menenangkan diriku kembali dan tidur dengan begitu tenangnnya.

Suara lonceng berbunyi menandakan jam 00:00, sementara itu aku belum bisa tidur. Aku masih dengan posisiku berbaring di kamar namun belum bisa tidur. Tidak ada angin maupun hujan, jendelaku tiba-tiba berbunyi, seperti ada yang mencakar, dan suaranya sangat menyakiti pikiran dan hati. Sementara itu aku tambah ketakutan dan seolah enggan melihat apa yang terjadi di jendela tersebut.

Namun suara dari jendela begitu keras dan semakin keras. Dengan begitu kerakutannya aku menghampirinya dan mencoba melihaynya. Aku membuka kordennya dan aku lihat tidak ada apa-apa. Aku membuka jendelanya dan ternyata tidak ada apa-apa, mungkin ini halusinasiku ungkap hati kecilku. “Tolong..!, setan”, teriak ibuku dari dalam kamarnya tiba-tiba.

Aku langsung berlari dan membuka pintu serta menghampiri kamar ibuku. Aku mengetuk pintu ibuku  dan berkata,”Ada apa ma..?”. Ungkapku dan langsung membuka pintu kamar ibuku. Aku melihat ibuku sudah bersembunyi di balik tebalnya selimut, sementara itu aku tidak melihat ayahku. “Ada apa ma”, ungkapku sambil membuka selimut yang menutupi ibuku”.

“Ada pocong nak, di kamar mama”, ungkap ibuku.
“Mana..?”, ungkapku.
“Tadi di sini”, duduk dengan begitu ketakutannya.
“Sudah tidak ada apa-apa”, ungkapku sambil menenangkannya.

“Ibu takut nak, mama takut”, ungkap ibuku sambil memeluku.
“Ayah kemana..?”.
“Tadi lagi ke toilet, tapi belum kembali juga, tau mau seperti ini mending mama ikut ke toilet”, ungkap ibuku.

“Sudah tenang tidak ada  apa-apa kok”, ungkapku sambil terus menenangkannya. Tak lama kemduian ayahku masuk ke kamar ibuku dan berkata,”ada apa ini..?”. “Mama lihat pocong pa di sini”, ungkap ibku.

“Mana enggak ada ah, mungkin mama salah lihat kali”, ungkap ayahku berdiri sambil melihat kami yang sedang duduk di kasur. “Iya tadi ada yah”, ungap ibuku.

“Ya sudah sekarang enggak bakal ada lagi itu pocong, kan ada ayah yang neglindungi mama”, ungkap ayahku duduk di samping ibuku. “Sudah ya, aku mau ke kamar mau tidur hari sudah malam”, ungkapku dan berjalan ke arah luar.

Aku berjalan dengan begitu santainya menuju ke kamarku. Sementara itu aku mulai membuka pintunya dan aneh bin ajaib, mengaa lampu mati, sedang ketika aku pergi lampu dalam keadaan hidup. Aku berjalan masuk dan mencoba menghidupkan lampu. Aku berjalan dengan mata tanpa penerangan, hinggaa kau sedikit berhat-hati dalam berjalan. Aku berjalan terus menggunakan instingku yang kuat.

Aku menghidupkan lampunya, dan setelah ku hidupkan lampunya mati lagi. Aku memencet lagi saklarnya dan hidup lagi sebentar, setelah itu mati lagi. Aku memencet lagi dan kurasakan begitu dingin leher belakangku, bulu kuduk juga ikut berdiri gara-gara hal tersebut.

Aku menghadap ke belakang dan melihat sosok pocong yang sangat mengerikan. Matanya berlelehkan nanah yang begitu amis sedang mulutnya sudah busuk dan mukany semuanya di penuhi dengan nanah dan darah yang begitu sangat menjijihkan. Aku tidak bisa berkata-kata melihat mahluk tersebut dan secara otomatis diam. Hingga akhirnya aku tidak sadarkan diri karena tidak kuasa melihat pocong.

--- oOo ---

Hari Bangkitnya Pocong Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Duwa Ananda