Sunday, September 11, 2016

Ada Hantu di Sekolah Tua

Cerpen Horor tentang Hantu di Sekolah - Hari ini adalah hari pertama proses belajar di sekolah SMA ini di mulai, setelah 30 tahun lebih sekolah ini di tutup. Alhamduliillah jumlah murid yang masuk juga banyak dan yang mengajar juga guru-guru berkualitas. Tentunya membuatku semakin bersemangat untuk menuntut ilmu di sini.


Aku memang salah satu murid di sekolah ini dari jumlah murid yang berjumlah 50 orang.
Suatu kebanggaan tentunya karena masih baru tetapi sudah memiliki siswa yang cukup banyak. Aku harap sekolahan ini bisa lebih ramai dan banyak peminatnya. Sehingga sekolahan ini bisa jaya dan bisa berkembang seperti layaknya dulu sebelum sekolahan ini di tutup.

Namun masih menyimpan misteri mengapa sekolahan ini di tutup. Dari rumor yang beredar sekolahan ini di tutup karena dahulu sekolahan ini sangat angker, dan tak jarang setan-setan di sini menyakiti siswa yang sedang belajar.

Namun ada juga yang berpendapat, karena sudah tidak ada lagi yang berminat di sekolahan ini, sehingga sekolahan ini tidak mendapatkan seorang siswa dan akhirnya tutup. Aku sendiri tidak tahu yang mana yang benar, tetapi bagaimana cerita sekolah ini, yang pasti aku tidak mau tahu tentang mengapa sekolah ini di tutup, karena tujuanku di sini hanyalah bersekolah dan mendapatkan prestasi yang bagus.

Bel sudah di bunyikan dan tanda menunjukan untuk masuk ke kelas. Aku dan kawan-kawanku segera masuk kelas dengan begitu tertib. Meski belum memiliki kakak kelas maupun adik kelas, tetapi proses belajar di pisah sehingga kuota murid dalam satu kelas tidak terlalu banyak. Dengan demikian terlitah dan terasa mempunyai adik kelas dan kakak kelas.

Pak guru masuk ke kelasku dan bersiap sekali untuk segera memulai pelajaran.
“Pagi anak-anak”, ungkap pak guru.
“Pagi pak”, ungkap kami semua.
“Hari ini kita belajar Bahasa Indonesia”, ungkap pak guru.

Pak guru berdiri dan menuliskan materi yang akan di sampaikan kepada murid. Sementara murid menyimak dan memperhatikan dengan begitu baik. Usai menulis pak guru menghadap ke arah kami dan mecoba menerangakn apa yang di tulisnya.

Terlihat, meski berlajar dengan sebuah keterbatasan gedung dan sekolahan, karena memang gedung ini adalah gedang tua dengan cat yang sudah pudar, tetapi antusias para murid begitu tinggi. Bahkan mereka tidak hanya mendengarkan saja, mereka juga turut berdiskusi langsung dengan gurunya tentang unek-unek yang ada dipikirannya.

Ketika sedang asyik mendengarkan teman dan guruku yang sedang berdiskusi tiba-tiba perutku sedikit sakit dan ingin sekali membuang air. Aku mengankat tanganku dan menghadap ke arah pak guru.

“Iya Indra mau tanya apa..?”, ungkap pak guru.
“Saya enggak tanya pak, saya mu ijin ke toilet, sebentar”, ungkapku dengan menahan.
Semua murid tertawa sementara pak guru hanya tersenyum dan menganggukan kepala dan berkata,”Iya silahkan Indra”, ungkap pak guru. Aku langsung berdiri dan berlari menuju toilet yang berada di belakang sekolah. Toiletnya begitu sepi dan sedikit gelap, di samping itu tempanya juga sudah di penuhi dengan sarang laba-laba. Aku memberishkannya untuku bisa berjalan.

Aku masuk ke toilet dan membuang air dan terasa begitu lega. Tetapi suasana di toilet ini begitu menyeramkan dan aku mendengar suara anak kecil yang sedang menangis. Aku yang sedang buang air kecil sontak terkejut dengan kehadiran suara tersebut. Suara tersebut berasal dari luar toilet dan begitu jelas terdengar.

Karena merasa penasaran, aku berkata,”Hey siapa di luar”, ungkapku dengan begitu penasara. Namun anak kecil tersebut tidak menjawab apa-apa dan terus menangis. Aku berkata lagi,”Siapa di luar, jangan bercandalah”, ungakpku dengan berteriak. Tetapi tidak juga mendapat jawabannya, hanya suara tangis yang menjadi jawabannyanya.

Untuk yang ketiga kalinya aku berkata lagi,”Siapa itu, enggak usah main-main sama saya”, ungkapku dengan begitu marahnya. Tetapi tidak jua mendapatkan jawabanya. Usai selesai membuang air aku keluar dan mencari keberadaan suara tangis tersebut. Aku terkejut karena tidak ada siapa-siapa yang menangis di luar, sedang ketika aku di dalam toilet, suara tersebut jelas terlihat seperti ada di luar.

“Terus siapa dong yang menangis”, ungkapku dengan begitu ketakutannya. Aku berlari karena merasa begitu takut dengan suara misterius tersebut. Hingga sampailah aku di kelas dan masuk.
“Kamu kenapa lari-lari”, ungkap pak guru kepadaku.

“Aku mendengar orang senag menangis di toilet pak”, ungkapku dengan begitu tergesa-gesanya.
“ Siapa yang menangis..?”, ungakp pak guru.

“Aku juga tidak tahu pak, ketika aku di dalam toilet, suara itu terdengar begitu jelas dan arahnya seperti dari luar, sedangkan ketika aku membuka pintu  dan keluar suara tersebut hilang dan tidak ada apa-apa”, ungkapku.

“Mungkin halusianasi kamu saja kali”, ungkap pak guru tidak percaya dnegan apa yang aku ucapkan kepadanya.
“Tidak pak ini nyata aku tidak sedang berhlusinasi”, ungkapku menyakinkan.
“Ya sudah sekarang kamu duduk, entar kita cari tahu dari mana suara itu”, ungkap pak guru.

Aku duduk kembali di tempat dudukku, dengan hati yang terus bertanya-tanya. Apakah benar sekolah ini tutup karena berhantu, ungkap hati kecil bertanya. Aku kembali mengikuti pelajaran yang di sampaikan oleh pak guru. Tak lama kemudian Rani temanku ingin pergi ke toilet dan dia meminta ijin kepada guru. Seolah tidak percaya dnegan apa yang aku katakan, Rani dnegan begitu beraninya pergi ke toilet sendirian.

Sementara itu kami para murid melanjutkan lagi memperhatikan materi yang di sampaikan oleh bapak guru. Cukup lama Rani pergi ke toilet hingga membuat hati kami bertanya tanya dimana dia gerangan, dan mengapa tidak pula kembali.

“Sudah setengah jam Rani pergi tapi belum juga kembal”, ungkap pak guru.
“Iya ini pak”, ungkap kami bersama.
“Coba perwakilan 2 orang menyusul Rani siapa tahu ada apa-apa dengan Rani”, ungkap pak guru menyuruh perwakilan dari kami menyusul Rani.

Aku dan ketua kelas berdiri dan hendak menghampiri Rani. Dengan jalan yang sedikit cepat kami menuju toilet. Sesampainya kami di toilet kami di kagetkan dengan keadaan Rani yang sudah tergeletak di luar toilet. Dia pingsan dan terbaring dengan begitu leluasanya. Aku mencoba membangunkannya tetapi tidak juga bangun.

Aku dan ketua kelas mengangkatnya dan membawanya ke kelas untuk meminta pertolongan kepada pak guru. Aku membawa Rani masuk ke kelas dan meletakannya di karpet yang sudah di gelar. Pak guru mengipasinya dan memberikan minyak angin ke hidungnya agar cepat sadar. Tak lama kemudian Rani sadar dengan sedikit kebingungan dan ketakutan.

“Kenapa kamu bisa pingsan”, ungkap pak guru menanyanya. “Aku melihat  perempuan berbaju putih dengan rambut panjang berjalan di depanku, dan aku tidak kuasa melihat wajahnya yang menyeramkan. Dan setelah itu aku pingsan dan tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi kepadku”, ungkap Rani. “Benar kan toiletnya berhantu”, ungkapku berkata kepada semuanya yang ada di ruangan tersebut.

--- oOo ---

Ada Hantu di Sekolah Tua Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Duwa Ananda