Tuesday, September 13, 2016

Hantu di Kolong Meja

Cerpen tentang Diganggu Hantu - Sebentar lagi aku akan mendapatkan hidup baru dan pengalaman baru, karena aku baru saja mendapatkan pekerjaan menjadi seorang asisiten rumah tangga di Jakarta. Aku begitu bahagia malam ini, hingga aku tidak sabar menunggu datangnya pagi dan majikanku menjemputku di sini. Hari sudah malam tapi aku belum juga bisa tidur, aku begitu bahagia karena aku sudah mendapatkan pekerjaan.


Sementara itu temanku yang berada di sampingku sempat bingung karena melihatku tidak juga tidur. Dia bangun dan berkata,”Kenapa belum tidur Sri”, ungkap temanku terbangun. Aku melihatnya dan tersenyum sambil berkata,”Aku begitu bahagia aku sudah dapat pekerjaan”.

“Iya sih, yang sudah dapat pekerjaan, tapi kamu juga harus tahu kamu harus siapkan tenaga kamu untuk besok, jangan sampai hari pertama kamu sudah mengecewakan majikan kamu, tidurlah”, ungkap temanku. “Iya- iya”, ungakpku dan kemudian tidur. Aku berbaring di samping temanku yang mulai memejamkan mata.

Kini malam ini adalah malam terhkhir aku berjumpa temanku yang ada di penyaluran pembantu. Aku harap aku bisa tetap bertemu dengan mereka semua, dan aku harap mereka tidak melupakanku. Aku memejamkan mata dan hingga akhirnya lupa dengan apa yang aku alami.

Di pagi hari aku terbangun dengan begitu riangnya karena ini adalah hari yang terindah dalam sejarah hidupku. Aku bisa mendapatkan penghasilan dan bisa mengirim uang kepada ibuku yang ada di desa. Sementara itu senyum menyambutku dari muka-muka sahabatku yang turut bahagia dengan apa yang aku alami. Sungguh hidup yang indah mempunyai sahabat-sahabat yang baik hati seperti mereka.

Aku pergi ke kamar mandi dan kemudian mandi dengan perasaan yang begitu bahagia dan riang. Usai mandi aku menyisir rambutku dan kemudian memakai baju yang rapih. Ketika sedang asyik di kamar ada yang memanggilku. “Sri calon majikanmu sudah datang”, ungkap temanku kepadaku yang sedang duduk di kamar.

Dengan begitu bahagianya aku membawa tasku dan semua perlengkapanku. Aku berjalan dan menemui majikanku. Dengan tersenyum aku menyalaminya, dengan ramahnya dia juga menyalamiku. Aku dan majikanku berjalan keluar dan kemudian masuk mobil.

“Namanya siapa..?”, ungkap majikan perempuan.
“Sri nyonya”.

“Sri.. sekarang kamu yang ambil alih pekerjaan rumah tangga saya, saya harap kamu bisa bekerja dengan baik, karena saya dan bapak jarang sekali di rumah, hingga kami tidak sanggup bila harus di bebani dengan pekerjaan rumah. Dengan adanya kamu di rumah saya, saya harap kamu bisa menjalankan tugas dari saya dengan baik”,ungkap majikan perempuan, ketika di perjalanan.

“Iya nyonya”, jawabku kepada nyonya.
“Sudah pernah kerja..?”, ungkap nyonya.

“Belum, saya baru lulus sekolah SMA, tapi masalah pekerjaan rumah, nyonya tidak perlu khawatir, karena saya sudah terlatih dan terbiasa dengan kerjaan tersebut. ketika saya di kampung semua pekerjaan rumah tangga ibu saya, saya yang ambil alih”, ungkapku.
“Oke bagus, saya percaya dengan kamu, saya harap kamu bisa jaga kepercayaan yang saya berikan”, ungkap nyonya. “Iya nyonya”, ungkapku.

Tak lama kemudian kami sampai di rumah, aku begitu takjub melihat begitu besarnya rumah majikan baruku ini. Taman yang begitu luas, air mancur yang begitu indah, dan bangunan rumah yang begitu tinggi dan mentereng, di penuhi dengan kaca-kaca.

Aku dan majikanku keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam. Rumah ini memang bagus dan besar tetapi sedikit menyeramkan, aku tidak tahu apa perasanku saja karena memang belum terbiasa atau memang karena menyeramkan. Aku duduk di ruangan tamu dengan majikanku.

Aku di beri arahan dan tugas yang hendak aku jalankan. Dengan begitu serius aku menyimak apa yang di sampaikan oleh majikanku. Setelah memberi arahan, kedua majikanku pergi meninggalkanku di rumah. Mereka pergi untuk bekerja kembali.

Aku meletakan tas ke kamar yang sudah di sedikan oleh majjikanku. Meski tidak besar tetapi kamar ini cukuplah untukku melepas lelah dan memulai mimpi. Aku mulai mengambil semua peralatan dan mulai mengepel lantai. Aku mulai mengepel di ruangan belakang. Ketika aku diruangan belakang, mataku terpikat dengan sebuah meja yang begitu antik yang ada di sampingku. Di lihat dari ukiran dan kira-kira usianya si ini memang meja antik.

Meja tersebut tanpa telapak meja  dan juga tanpa barang satupun yang ada di atasnya. Aku memberi telapak dan sebuah vas bunga di atas meja tersebut agar tampilan meja antik tersebut lebih menarik. Aku melanjutkan mengepel lagi dan hingga tak lama kemuidan aku selesai. Aku berjalan ke ruang tamu untuk membersihkan lantai yang ada di ruangan tamu.

Tidak berbeda dengan di ruangan belakang aku juga melihat meja yang begitu antik yang berada di ruangan tamu. Di lihat dari ciri-cirinya sepertinya usia meja ini sama dengan meja yang ku temukan di ruangan belakang. Meja ini juga tanpa telapak maupun barang lain yang berada di atasnya.

“Tar....!”, suara benda jatuh berasal dari belakang. Aku bergegas menuju ke belakang untuk segera melihatnya. Aku melihat vas dan telapak yang aku pasang di meja kelasik tersebut sudah jatuh ke lantai. Aku bingun mengapa bisa demikian padahal tidak ada siapa-siapa lagi di sini selain aku. Sedikit janggal tetapi aku tidak memikirkan hal tersebut dan memasangkan telapak mejanya kembali tetapi tanpa vas.

Setelah itu aku membersihkan pecahan vas dan membuangnya ke kotak sampah. Setelah aku kembali ke ruangan belakang, telapak tersebut terjatuh lagi, padahal tadi sudah aku pasang dengan begitu rapihya. Siapa gerangan yang menjatuhkan ini ungkap hati yang bertanya-tanya. Aku mengambil telapak tersebut dan memasangkannya lagi. Aku berjalan ke depan dan hendak melanjutkan mengepel lantai depan.

Aku mulain mengepel dengan secara berurutan dari ujung tembok sebelah kiri hingga ujung sebelah kanan yang kebetulan menjadi tempat meja kelasik tersebut di letakan. Dengan begitu gesitnya aku mengepel semua permuakaan dari pada lantai. Hingga akhirnya aku sampai pada ujung tmbok sebelah kanan. Aku mengepelnya di bagian ujung sebelah kanan hingga semuanya sudah terbasahi dengan begitu baik.

Namun ada yang tertinggal menurutku dan belum terkena kain basah pelku. Bagian kolong meja kelasik yang begitu besar ini. Dengan terpaksa aku menunduk dan masuk ke dalam kolom untuk membersihkan kolom dengan kain pelku. Dengan begitu telitinya aku membersihkan permukaan lantai yang ada di dalam kolom.

Aku merasa ada sesuatu yang menyentuh leherku ketika aku mengepel kolom tersebut. Terasa geli ketika terkena leher. Aku memegang sesuatu tersebut dan melihatnya dan ternyata itu rambut. Dalam hati bertanya rambut siapa…? Aku melihat ke atas, dan ternyata ada mahluk berambut dengan muka yang menyeramkan. “Setan...!”, ungkapku dan keluar dari rumah.   

--- oOo ---

Hantu di Kolong Meja Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Duwa Ananda