Wednesday, September 14, 2016

Anak Setan Usil

Cerpen tentang Cerita Setan Mengerikan - Sore menjelang sementara aku sedang sibuk bersiap-siap untuk pergi ke tempat temanku. Aku memasukkan buku dan segala peralatan belajar. Karena di tempat teman itu kami akan mengerjakan tugas secara bersama. Tak lupa kau mengecek kembali apa yang kiranya belum aku masukan ke dalam tasku ini. Setelah semuanya di rasa sudah selesai di siapkan, aku mandi.

(c) shutterstock.com

Usai mandi aku memakai bajuku kembali dan kemudian keluar. Aku masuk ke kamar dan kemudian menyisir rambut hingga tampak begitu rapi dan teratur. Setelah itu aku tak lupa menyemprotkan sedikit wewangian ke baju dan tubuhku. Dan badan terasa segar dan harum.

Aku keluar dari kamar dan menemui ibuku yang ada di dapur. “Ibu...!”, ungkapku sambil berjalan menuju dapur.

“Iya Nir”, ungkap ibuku yang sedang menggoreng ikan. “Aku berangkat ke tempat temanku, dan aku akan menginap di sana”, ungkapku kepada ibuku. “Loh ada acara apa di sana”, ungkap ibuku. “Kami mau mengerjakan tugas bersama”, ungkapku kepada ibuku. “Ya sudah hati-hati ya”, ungkapnya.

Aku mencium tangan ibuku dan kemudain bergegas untuk pergi. Aku menghidupkan motorku, setelah itu aku berjalan melintasi jalan raya. Suasana jalan begitu ramai dan aku meningkatkan kewaspadaanku ketika di jalan raya ini. Sebab bila kurang wasapada maka taruhannya adalah keselamatanku. Aku beruntung karena meski jalan begitu ramai tetapi tidak macet, sehingga aku tetap bisa melaju dengan tenang tanpa harus gelisah.

Setelah itu aku melewati jalan yang sedikit lebih jarang pengendaranya. Dan aku meninkatkan kecepantanku lagi untuk bisa cepat sampai di tempat tujuan. Motorku berasa terbang dan melaju begitu cepatnya. Aku begitu menikmati ketika motorku melaju dengan begitu cepatnya. Aku mengurangi kecepaan setelah aku melihat tikungan tajam di depan.

Aku mengurangi kecepatan dan hingga sampailah aku di tugu selamat datang desa tempat temanku tinggal. Itu artinya aku sudah hampir sampai. Namun harus dengan lebih sabar, karena jalan menuju rumahnya sedikit jelek karena berbatu. Dengan sabar aku mengatur gas motorku sehingga bisa berjalan dengan begitu setabil.

Aku sampai di depan rumahnya dan berhenti serta mematikan motorku. Sementara itu temanku membuka pintu setelah mendengar suara motorku. “Eh Munir, sudah datang Nir”, ungkap temanku yang berada di pintu. Aku melihatnya dan berkata,”Iya ini, mana yang lain belum datang..?”, ungkapku sambil melepas helem. “Belum ini, paling sebentar lagi, masuk dulu Nir ke dalam tunggu aja di dalam”, ungkap temanku.

“Iya Ndrik”. Sementara itu hari sudah malam dan tak lama kemudian Beni datang sendirian. “Ben, tak kira enggak datang ben”, ungkapku kepadanya. “Datang dong, masa iya aku biarin sahabat-sahabat aku ngerjain tugas, sedang aku tidak ikut”, ungkapnya sambil turun dari motor dan melepas helem.

Beni berjalan ke arah pintu dan mendekatik kami, setelah itu kita semua berjabat tangan. “Ayo mausk-masuk”, ungkap Hendirk mempersialahkan kami untuk masuk ke rumahnya.

Aku dan Beni masuk dan duduk di kursi ruangan tamu Hendrik. Sementara itu Hendrik masuk ke kamar untuk mengambil buku dan peralatan tulis yang lainya. Kami duduk santai sebentar untuk melemaskan urat kami, usai melakukan perjalanan cukup jauh.

Hingga urat kami sudah benar-benar lurus dan lemas, kami memulai diskusi dan mulai menggarap tugas yang di berikan guru kepada kami. Aku mulai membuka tutup pulpen dan kemudia membuka lembaran buku. Kami membuka tulisan yang berisi tentang tugas dan perintah yang di berikan kepada kami. Kami membacanya dan kemudian mencermati. Setelah itu kami mulai mengerjakannya denegan bersama-sama.

Aku bertugas menulis sedang yang lain menghitung dan ada pula yang mencari refrensi. Dan itu di lakukan secara bergantian agar teras ringan  dan cepat selesai. Hingga 1 jam kemudian kami sudah mampu mengerjakan 3 tugas yang di berikan. Kini kami tinggal mengerjakan 2 tugas yang di berikan guru.

Malam semakin larut dan keadaan juga semakin sepi, jam sudah menunjukan jam 22:00. Tidak ada suara kendaraan melintas dan tidak ada orang yang sedang bercakap-cakap di luar. Yang ada hanya suara kami yang sedang mengerjakan tugas dari guru. Dengan terus semangat kami bersama berusaha menyelesaikan tugas yang tinggal 2 ini.

Akhirnya setelah 2 jam berjalan tugas sudah selesai. Sementara aku meluruskan punggungku ke belakang untuk membuatnya lega.

“Kalau mau tidur di kamar ini”, ungkap Hendrik sambil menunjuk kamar yang hendak kami tempati. “Iya Ndrik, tidur di dalam yuk, ngantuk banget ini”, ungkapku kepada Beni. “Iya masukin dulu motornya”, ungkap Beni. “Masukin aja lewat garasi, entar tak buka pintunya”, ungkap Hendirk.

Aku keluar dan mulai menghidupakan motorku. Sementara itu Beni juga menghidupkan motornya. Kami memasukan motor kami ke dalam lewat garasi. Aku berjalan terlebih dahulu setelah itu baru Beni.

Aku memasukkannya dan kemudian mematikan mesinya. Begitu juga Beni memasukan motornya dan kemudian mematkikan mesinya. Hendrik menutup pintunya dan kemudian berjalan untuk masuk ke kamar.

Kami bertiga masuk di kamar yang sudah di sediakan hendrik, dan segera mengambil posisi. Kami tidur dengan gaya kami sendiri dan sesuai dengan gaya yang kami sukai. Ada yang terlentang, ada yang miring, dan ada pula yang tengkurap.

Kami semua tertidur dengan begitu lelapnya. Hingga malam semakin larut, pundaku begitu sakit dan terasa ada yang menginjak-injak.

“Aduh sakit..!”, berteriak dan kemudian terbangun. Aku bingun siapa yang menginjaku, sedang aku melihat teman-temanku sedang tidur dengan begitu lelapnya. Aku tertidur lagi dan akhirnya benar-benar tertidur.

Tetapi kakiku seperti ada yang menendang dan begitu kuatnya hingga membuat aku berteriak dan berkata,”Aduh..!”, lalu terbangun. Aku terbangun dan dalam keadaan bingung dan bertanya-tanya siapa gerangan yang menendangku, karena aku lihat mereka berdua tetap dengan posisi tidurnya. Hingga akhirnya aku tidak tertidur kembali, karena sudah tidak bisa tidur.

Aku tetap berbaring tamun tidak memejamkan mata. Hingga aku melihat Beni berteriak kesakitan dan memegang kakinya dengan begitu kuat. Aku bangun dan membangunkan Beni yang berteriak-teriak tersebut.

“Ben..!, bangun”, ungkapku membangunkannya. Dia terbangun dan begitu kebingungan dengan apa yang sudah di alaminya.

“Siapa yang menendangku”, ungkapnya. Sentara itu Hndrik bangun dan berkata,” Ada apa..?”. “Kakiku seperti ada yang menendang”, uangkap Beni. “Sama aku juga sudah 2 kali terbangun, hanya gara-gara merasa ada yang menendangku”, ungkapku.

“Di kamar ini memang ada anak setan, dia selalu usil dengan tamu-tamuku. Padahal aku sudah  panggilkan para normal untuk mengusirnya tetapi dia tidak juga pergi. Meski demikian dia tidak pernah menyakitiku, hanya saja tamuku sering di kerjainya”, ungakp Hendrik. Berkat cerita dari Henrik akhirnya kami bertiga memutuskan untuk tidak tidur sampai pagi.

--- oOo ---

Anak Setan Usil Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Duwa Ananda