Thursday, September 8, 2016

Ruang 308 yang Keramat

Cerpen Horor Terbaru Mengerikan - Malam itu kami hendak pergi ke tempat saudara kami, tetapi tampaknya kami lupa jalan dan tersesat. Dan kami tidak bisa berbuat-apa-apa karena kami tidak bisa menggunakan GPS kami karena tidak ada sinyal. Sementara itu aku melihat Rahman begitu sabar menghidupkan GPS di ponselnya dengan jaringan yang sangat buruk.


“Aduh kok enggak konek-konek si”, ungkap Rahman dengan begitu kesalnya sambil memegang ponselnya. Sementara aku melihatnya dan berkata,”Percuma Man, enggak ada sinyal”. “Tadi sedikit sekarang putus lagi, Nah..!, kan nyambung GPSnya”, ungkap Rahman dengan begitu bahagianya.

“Coba cari penginapan di sini Man”, ungkapku kepadanya. “Di kebun-kebun seperti ini mana ada penginapan sih”, ungkap Dika salah satu temanku. “Makanya cari dulu sama GPS”, ungkapku dan melihat Dika.

Aku dan Rahman begitu sabar menunggu informasi penginapan di dalam GPS tersebut. “Serching google aja Man, cari penginapan gitu”, ungkapku sambil melihat layar ponsel yang di pegang Rahman. Rahman membuka google dan mengakses sebuah informasi tentang penginapan.

“Ni.. ni.. ni.., ada 1 penginapan di tempat ini namanya penginapan melati, berdasarkan informasi google, letaknya tidak jauh dari sini”. Dengan begitu bahagianya aku berkata,”Kan ada kan, apa aku bilang”, ungkapku sambil melihat Dika yang begitu masa bodo dengan masalah yang kami hadapi.

“Ayo hidupkan mobilnya kita berjalan ke arah depan terus lurus, GPS ini akan mengantar kita”, ungkap Rahman. Dika menghidupkan mobilnya dan berangkat untuk mencari penginapan. “Ada perempatan kemana ini..?”, ungkap Dika yang begitu fokus menyetir. “Ke kanan”, ungkap Raman sambil terus melihat tanda panah yang berjalan di atas peta dalam GPS.

“Ini lurus terus sampai bertemu pertigaan”, ungkap Rahman. Sesampainya kami di pertigaan Dika bertanya lagi,”Kemana kita..?”. “Ke kiri”, ungkap Rahman.

“Benarkan ini jalanannya, kok serem gini sih”, ungkapku melihat jalanan yang begitu gelap dan tidak ada permukiman sama sekali. “Ya menurut informasi di internet sih begitu”, ungkap Rahman  tanpa sedikit meninggalkan pandangandnya pada ponselnya.

“Nih sudah dekat lagi kita, ini lurus terus setelah itu sampailah kita di penginapan”, ungkap Rahman menunjuk jalan.

Dika dengan begitu seriusnya mengikuti apa yang di sampaikan oleh Rahman, sementara itu aku harap-harap cemas dan masih tidak percaya ada permukiman di tempat ini. Kami berjalan terus hingga akhirnya kami melewati pemakaman.

“Kok ngelewati makam sih”, ungkap Dika.
“Sudah, terus saja”, ungkap Rahman.
Kami sampai di ujung jalanan yang begitu jauh dan pelang Melatipun sudah kami ketemukan. Tetapi berbeda dengan apa yang ada di bayangan kami, karena penginapan ini seperti gedung tua yang sudah tak berpenghuni.

“Yakin ini penginapannya..?”, ungkap Dika. Sambil melihat gedung Rahman berkata,”Yakin, ayo kita masuk”. Sementara itu aku berjalan sambil melihat atap-atapnya yang penuh dengan debu dan sarang laba-laba.

“Permisi..,”, uangkap Rahman sambil mengetuk pintu penginapan. Tetapi tidak ada satu orang yang menjawab kami. Hingga akhirnya kami di kagetkan dengan pintu yang membuka sendiri tanpa ada orang yang membukanya dan tanpa angin yang meniupnya.

Kami masuk dan terus berkata,”Permisi, Pak, Buk, Mas, Mbak, apakah ada orang”. “Selamat datang di penginapan melati”, ungkap orang tua yang begitu misterius dan berdiri di tempat kasir.

Kami terkejut mengapa tiba-tiba ada orang tua ini. kami berjalan mendekatinya dan berkata,”Oh iya pak, saya dan kedua teman saya mau menginap di sini, apakah ada kamar yang kosong”, ungkapku kepada orang tua tersebut.

“Ada, mau berapa kamar..?”, ungkap orang tua tersebut. “1 saja pak untuk bertiga”, ungkap Dika.

Nada biacara yang begitu monoton dari orang tua tersebut sedikit membuat kami takut berada di tempat ini. Belum lagi dengan tempat yang begitu tidak terawat dan penuh debu.

“Silahkan di isi administrasinya”, ungkap orang tua tersebut. Dika mengisi administerasi yang sudah di siapkan oleh orang tua tersebut.

“Ini kunci kamar kalian di kamar 307, satu pesan saya, jangan pernah membuka kamar nomer 308, apapun yang terjadi. Selamat beristirahat”, ungkap orang tua tersebut. “Iya pak, bisa antar kami ke kamar 307..?”, ungkapku.

“Seno..!”, ungkap orang tua tersebut memanggil orang yang ada di balik pintu belakang. “Iya pak”, sambil berjalan mendekati orang tua tersebut. “Antar tamu kita ke kamar 307”, ungkap orang tua. Dengan begitu sigabnya orang tersebut berkata,”Iya pak”. “Mari mas saya antar”, ungkap pemuda tersebut.

Aku berjalan menaiki tangga dan menuju kamar 307. Sesampainya aku di kamar 307, aku melihat kamar 308, yang memang tidak boleh untuk di buka. Tetapi kenapa demikian tidak boleh di buka ungkap hati bertanya-tanya ketika melihat kamar 308.
 Kami masuk ke dalam dan begitu pengabnya kamar ini dan terlihat sekali tidak pernah di rawat.

“Sampai di sini saja ya mas, saya kembali bekerja lagi”, ungkap orang tersebut dan pergi. Aku dan kedua temanku mulai membersihkan kamarnya dan menata kembali kasurnya. Setelah selesai kami mulai beristirahat untuk melemaskan otot-otot kami.

Kami tidur bertiga di kamar yang cukup luas ini, sementara itu ketika hendak memejamkan mata aku mendengar suara dari kamar 308.

“Kalian denger enggak ada suara orang menangis di kamar samping”,unkapku kepada kedua temanku. “Iya siapa ya, suaranya si suara perempuan”, ungkap Rahman dan Dika dengan begitu bertanya-tanya.

Suara perempuan menangis tersebut semakin keras hingga mengganggu kami yang hendak tidur. Aku berdiri dan hendak berjalan keluar.

“Woy mau kemana”, ungkap Dika.
“Aku mau mengintip kamar 308 dulu”, sambil berbisik.

Mereka berdua ikut bersamaku hendak melihat apa yang sebenarnya terjadi di kamar tersebut. kami berjalan menuju kamar tersebut dan terdengar begitu jelas ada orang yang sedang menangis. Lama kami menempelkan kuping kami di pintu 308, dan membuat kami penasaran lagi.

Hingga akhirnya aku memegang pintu tersebut dan hendak membukanya. Tiba-tiba pria tua yang menjadi kasir memegang tanganku dan berkata,”Apa kau tidak punya telinga..!, aku sudah bilang jangan bukan pintu ini”, ungkap pria tua tersebut dengan begitu marahnya.

Suara tangis yang tadi kau dengar tiba-tiba hilang ketika orang tua tersebut datang. Dengan begitu sedikit merasa bersalah aku berkata,”Aku mendengar ada perempuan yang sedang menangis di dalam makanya aku ingin membukanya”.

“Hati-hati kalian di sini, kamar ini adalah kamar keramat, jadi jika kalian mau selamat ikuti peratuaran yang ada”, ungkap pria tua tersebut. “Iya pak”, ungkap kami bertiga dan masuk ke kamar lagi. kami menutup pintu kamar dan kemudian tidur. Kami kaget ada suara orang tertawa di dalam kamar 308. “Loh kok ada perempuan yang tertawa sih, tadi nangis sekarang tertawa, Hi....”, memeluk bantal dan berusaha menutup mata.  

--- oOo ---

Ruang 308 yang Keramat Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Duwa Ananda