Saturday, September 17, 2016

Genderuwo Penebar Dendam, Cerpen Horor Genderuwo

Cerpen Horor tentang Genderuwo - Siang hari aku sedang bersiap-siap untukku pergi ke rumah pak Salman. Di sana aku akan membicarakan tentang bisnis makanan yang sedang aku jalankan bersamanya. Tak sabar rasanya untuk segera sampai disana. 

Aku memasukkan sebuah buku kecil, dan ponsel setra pulpen untukku bawa ke rumah pak Salman. Setelah semuanya siap, aku pergi menggunakan mobil. Dengan begitu hati-hatinya aku melaju dengan kecepatan sedang di jalan aspal.  



Hingga 100 meter kemudian aku menginjak rem, karena suasana begitu macet total. Hingga aku melihat kendaraan yang ada di depanku berjalan lagi. Aku menginjak gasnya lagi untuk menutupi ruang yang kosong,

Aku harus menunggu lagi sampai kendaraan yang ada di depanku bisa bergerak lagi. setelah cukup lama menunggu akhirnya arus jalanan bisa bergerak lagi, aku memasukkan gigi dan menginjak gas. Aku melaju lagi menuju tempat pak Salman. Hingga tak lama kemudian aku sampai di rumah pak Salman.

Aku turun dari mobil dan kemudian berjalan menuju pintu dari rumah Pak Salman. “Assalamualaikum”, ungkapku sambil mengetuk pintu. “Waalikum salam “, ungkap pak Salman di dalam rumah. 

Hingga akhirnya aku dibukakan pintu dengan begtu ramahnya dia berkata,”Pak Fahmi, sialahkan masuk pak”, ungkap pak Slaman.

“Iya terimakasih,”, ungkapku masuk dan duduk di ruangan tamu dengan pak Salman. Aku mengeluarkan buku yang berisi laporan  keungan tentang belanja kebutuhan bisnis yang kami kelola.

“Ini pak saya kesini mau memberi tahukan tentang pengeluaran kita di bulan ini, dan silahkan bapak lihat di buku ini”, ungkapku sambil memberikan buku tersebut.

Hingga tak lama kemudian datanglah pak Adi, yang merupakan saudara dari pak Salman, dia juga rekan kami bersama. 

“Pak Salman sudah datang, dari tadi pak..?”, ungkap pak Adi dengan begitu cerianya.
“Sudah pak”, sambil bersalaman dengannya.
“Ini mas, laporan belanja bulanan kita bulan ini”, ungkap pak Salman kepada pak Adi.

Pak Adi menerima buku nota tersebut dan membacanya. Sambil membaca nota tersbeut dia berkata,”Pokonya masalah keungan saya percayakan kepada pak Fahmi, saya percaya 100% kepada pak Fahmi”, ungkap pak Adi.

“Iya, kiranya ada sebuah kekurangan jangan sungkan-sungkan untuk mengingatkan saya pak, karena juga dalamm tahap belajar yang tidak luput dalam kesalahan”, ungkapku kepada pak Adi.

“Iya pak, sama-sama, dan di sini juga saya akan memberitahukan, bahwa produk yang kita buat sudah saya pasarkan ke luar daerah, dan peminatnya cukup banyak. Dan saya minta kepada kamu Salman, yang bertanggung jawab dalam bidang produksi, tingkatkan target untuk memenuhi kebutuhan konsumen kita”, ungkap pak Adi.

“Iya mas, akan saya kordinasi kepada para karyawan yang ada di bagian produksi”,ungkap pak Salman.

“Ya sudah kalau begitu, saya mau pamit dulu pak Adi, dan juga pak Salman, hari sudah mulai magrib”, ungkapku. “Iya, hati-hati di alan ya”, ungkap mereka.

Aku keluar dan kemudian mengendarai mobil untuk menuju pulang. Terasa begitu senang karena akhirnya bisnis yang aku dan teman-temanku bangun bisa berjalan dengan baik. Kini aku sudah di percaya sebagai seorang yang bertanggung jawab di dalam masalah keungan. Aku akan terus menjaga kepercayaan ini.

Setelah lama mengendarai mobil di jalanan sampailah aku di rumah, aku masuk ke dalam rumah dan kemudian mandi. Sementara istriku sedang menyiapkan makan untuk kami bersama. Aku berjalan ke kamar mandi dan mulai untuk mandi. Hingga akhirnya selesai mandi, aku keluar dan masuk kamar untuk mengganti bajuku.

Setelah itu aku berjalan ke ruangan makan untuk makan bersama. “Ting.. Tong,..”, suara bel pintu depan berbunyi. “Siapa si magrib-magrib bertamu”, ungkap istriku, dan berdiri serta berjalan untuk membukakan pintu. “Yah ada pak Adi”, ungkap istriku.

Aku terkejut dengan apa yang dikatakan istriku. “Ngapain ya pak Adi ke sini, bukannya urursan bisnis sudah selesai”, ungkapku dalam hati kecil. aku berjalan untuk menuju depan menemui pak Adi. “Eh pak Adi, tumben ke rumah ada apa ya”, ungkapku kepadanya dan menyalaminya.

Pak adi bersalaman denganku dan terasa aneh karena tangannya begitu dingin. Rambutnya juga sudah basah seperti habis mandi, serta tidak terlihat seperti orang yang baru melakukan perjalanan jauh. Dia duduk di kursi ruangan tamuku.

“Iya Cuma pingin main”, ungkapnya tanpa ada senyum sedikit di mukanya.
“Pak Adi ke sini naik apa..?, kok enggak bawa mobilnya”, ungkapku.
“Aku naik taksi tadi”, ungkapnya.

Aku sedikit curiga, apa ini benar pak Adi, karena gaya bicaranya berbeda sekali dengan pak Adi yang aku kenal. Belum lagi ketika aku datang ke tempat pak Salman, aku melihat pak Adi tidak menggunakan kemeja, dia menggunakan kaos santai, kapan gantinya ya, uangkap hati bertanya-tanya.

“Gini saya mau memberikan informasi terkait Salman, bapak Fahmi kalau memberikan uang kepada Salman dilihat dulu jangan asal diberikan. Pak Fahmi tidak tahukan Salman sering korupsi dengan dana yang bapak berikan”, ungkap pak Adi mengejutkanku.

“Bapak tau dari mana dia korupsi, ya saya tau lah saya kakaknya”, ungkap pak Adi. “Ya sudah itu saja yang saya sampaikan, saya pamit, mau pergi ada urusan bentar”, berdiri dan menyalamiku.

Dia keluar dari pintuku, aku berjalan ke arah pintu hendak melihat kepergian dari pak Adi. Tetapi aneh dia sudah tiddak ada, dan tidak ada kendaraan sama sekali yang membawanya. Aku berjalan ke arah luar untuk mencari di mana pak Adi, tetapi dia sudah hilang.

“Tadi pak Adi bukan ya, tetapi kenapa bicaranya seperti itu, ah mungkin perasaanku saja. Sekarang aku mau bicara dengan pak Salman, aku tidak menyangka dia bisa korupsi”, ungkapku dan menghubingi pak Salman.

“Halo pak Salaman”.
“Iya, ada apa pak Fahmi”, ungkap pak Salman.
“Saya harap anda jujur dengan dana tempo lalu yang sudah saya berikan kepada anda, apa benar anda korupsi”, ungkapku secara terang-terangan.

“Astagfirullah bapak dapat berita murahan dari siapa itu, bapak jangan asal bicara ya, saya bisa tuntut bapak”, ungkap pak Salman.

“Baru saja pak Adi ke sini, dan mengatakan hal ini, sekarang bapak jujur saja, jangan nodai persahabatan kita dengan masalah ini”, unkapku semakin marah.

“Pak Adi itu dari tadi di sini, dan baru saja pulang, jadi enggak mungkinlah dia ke sana, bapak jangan ngarang cerita ya”, ungkap pak Salman. “Saya tidak mengarang cerita, bapak yang mengarang cerita dan mengatakan bahwa pak Adi ada di situ, padahal pak Adi ada di sini dan bau pergi”, ungkapku dengan penuh emosi.

“Ya sudah bila pak Fahmi sudah tidak mempercayai saya lagi, lebih baik bisnis ini kita bubarkan, dan kita tidak ada hubungan apa-apa lagi”, ungkap pak Salman. “Oke, kalau begitu”, ungkapku dan menutup teleponnya. 

“Keras kepala banget sih itu orang, lalu siapa yang datang di sini kalau bukan pak adi, masa genderuwo, jin, kuntilanak”, ungkap hati kecilku. Kira-kira siapa ya yang datang ke rumahnya pak Salman magrib-magrib..?, tunggu ceritanya di Gondoruwo Penebar Dendam part II.

--- oOo ---

Genderuwo Penebar Dendam, Cerpen Horor Genderuwo Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Duwa Ananda