Monday, November 2, 2015

Cerpen Remaja Terbaru, Ayah... Aku Ingin Seperti Mereka

Cerpen Remaja Terbaru, Ayah... Aku Ingin Seperti Mereka - Menambah koleksi cerita pendek yang sudah ada kali ini juga akan diberikan kembali sebuah karya cerpen remaja singkat yang banyak dicari. Karya cerita pendek ini bisa menjadi bahan bacaan sebagai hiburan sekaligus bisa untuk sarana bahan belajar untuk membuat cerpen. Ceritanya bagus, cerpen ini juga ditulis dengan bahasa yang sederhana. Mau tahu bagaimana kisah selengkapnya?

Memang ini bukan satu-satunya kisah remaja yang pernah dimuat. Selain Cerpen Remaja Terbaru, Ayah... Aku Ingin Seperti Mereka ini juga masih ada banyak lagi cerpen lain yang juga bagus bagus untuk bahan bacaan. Misalnya saja, bagi yang berminat bisa membaca juga beberapa cerpen lain di bawah ini.

4) Kumpulan cerpen cinta romantis
5) Tulis cerpen

Sekarang dari pada makin penasaran dengan cerpen remaja terbaru yang bagus tersebut lebih baik kita baca langsung selengkapnya di bawah ini. Nanti kalau sudah selesai jangan lupa baca juga beberapa cerita lain yang sudah disiapkan di bagian bawah. Mudah-mudahan semua contoh cerpen yang dibagikan berkenan di hati pembaca semuanya.

Ayah... Aku Ingin Seperti Mereka
Oleh Dian Lestari

Kumandang adzan mulai terdengar dan suara ayam pun mulai berkokok bersahut-sahutan. Terlihat cahaya di salah satu kamar yang sepertinya mulai terlihat tanda-tanda kehidupan dalam rumah sederhana yang terletak jauh dari Kota Bandung.

Seorang anak perempuan mulai terbangun dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Merapihkan tempat tidur, lalu mengambil air wudhu untuk melaksanakan salah satu kewajiban sebagai seorang muslim yaitu shalat subuh. Setelah selesai shalat subuh, dia memulai pekerjaan rumahnya seperti memasak serta merapihkan rumah dan bersiap-siap ke sekolah.

Yang diketahui anak perempuan tersebut bernama Az-Zahra, dan biasa di panggil dengan Zahra. Dia tinggal bersama Ayah dan Neneknya.

Lalu, kemanakah sosok Ibu dalam keluarga tersebut? 

Ternyata kedua orang tuanya telah berpisah, dan Zahra lah yang menggantikan peran seorang Ibu dalam keluarga tersebut. Dan Zahra tidak pernah tahu keberadaan Ibunya.

“Nenek... Zahra berangkat sekolah dulu ya?” Kata Zahra sambil mencium tangan Neneknya.
“Iya nak, hati-hati di jalan” Kata nenek menasehati.
“Siap nek... Ya sudah nek, Assalamualaikum” Kata Zahra sambil melangkah pergi.
“Walaikumsalam” Sahut nenek.

oOo

Zahra terus mengayuh sepedah kesayangannya menuju ke tempat dia menimba ilmu, yaitu SMA DARMA BAKTI salah satu sekolah favorit yang ada di Bandung. Berkat kerja kerasnya, Zahra bisa masuk ke sekolah tersebut tanpa membayar uang SPP selama 3 tahun.

Setelah pulang sekolah, Zaha pun kembali ke perannya sebagai ibu rumah tangga. Dan tak jarang pula dia melamun memikirkan Sang Ibu, karena rindu yang dia rasakan. “Ibu.. Ibu dimana? Zahra kangen sama Ibuu.. Zahra ingin bertemu Ibu..” Kata Zahra di dalam hatinya. Air matanya sudah tak bisa terbendung lagi dan mengalir begitu saja di pipi Zahra.

PRAAAAAKKKK !!! (Suara piring terjatuh) Tanpa sadar, piring yang sedang Zahra cuci terlepas begitu saja dar genggaman tangannya karena dia melamun.

Karena mendengar suara bising dari arah dapur, ayah Zahra merasa terganggu dan menghampirinya. Karena melihat Zahra memecahkan piring, ayahnya pun marah.

“Kamu itu bisa mencuci piring tidak?! Kerja seperti itu saja tidak becus!!” 
“Maafin Zahra yah.. Zahra tidak sengaja” Kata Zahra gugup.
“Tidak sengaja.. Tidak sengaja.. Kamu fikir kamu bisa mengganti piring itu?!”
“Hah.. menyusahkan saja! Sudah sana cepat bereskan!!” Kata ayah kembali.

Tanpa menjawab perkataan ayahnya, sambil menangis Zahra membersihkan serpihan-serpihan piring yang dia pecahkan. Dan tanpa sengaja jarinya tergores pecahan piring.
“Auuuuuu” rintih Zahra kesakitan. 

Meskipun jarinya terluka, namun Zahra tetap melanjutkan pekerjaannya dengan jari yang bercucurn darah. Tak terasa adzan asar pun terdengar, Zahra pun bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat. Setelah selesai shalat, dia pun mengobati jarinya yang terluka, lalu melanjutkan pekerjaan yang tadi tertunda. Zahra pun teringat bahwa sore ini dia berniat mencari ibunya, lalu dia pun ccepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya. Setelah selesai, Zahra memberanikan diri meminta izin kepada ayahnya.

“Ayah.. Boleh tidak kalau Zahra pergi mencari ibu?”
“Tidak boleh! Mau ngapain kamu mencari ibu mu”
“Zahra ingin bertemu ibu yah, Zahra kangen sama ibu”
“Tidakk! Jangan harap kamu bisa menemui ibu mu” Kata ayah tegas.

Dengan perasan kecewa, Zahra masuk kedalam kamarnya. Menangis, hanya itu yang dapat Zahra lakukan saat ini. Dia hanya bisa menuruti apa kemauan ayahnya tanpa membantah. Karena dia selalu mengingat akan semua jasa-jasa dan kerja keras ayahnya - Cerpen Remaja Terbaru, Ayah... Aku Ingin Seperti Mereka. Walaupun terkadang sikap ayahnya kasar, namun dia sangat menyayangi ayahnya. Dan di satu sisi pula Zahra sangat ingin bertemu dengan ibunya, tetapi apa daya, karena ayahnya melarang keras bila dia bertemu dengan sang ibu, maka hal tersebut hanyalah menjadi mimpi Zahra. Dan Zahra bagaikan pungguk yang merindukan bulan.

oOo

Dengan suaranya yang merdu Zahra selalu memanfaatkannya untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti membaca ayat-ayat suci Al- Qur’an yang biasa dia lakukan setelah selesai melaksanakan shalat maghrib. Perasaan nyaman selalu dia rasakan setelah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Al-Qur’an lah menyejukkan hati dan jiwanya. Berdo’a, mengadu kepada Sang Ilahi pun selalu Zahra lakukan, air matanya selalu mengiringi di setiap do’a yang keluar dari mulut mungilnya. Sekencang apa pun badai permasalahan menguji dirinya, dia selalu yakin bahwa Allah Swt. tidak akan memberikan cobaan kepada Hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Dan setiap masalah dalam bentuk apa pun pasti akan ada jalan keluarnya, dia percaya suatu saat nanti dia akan merasakan kebahagiaan itu.
“Zahra !!!” Panggil ayahnya saat Zahra sedang berdo’a.

Zahra yang masih terhanyut dalam do’anya pun tersentak mendengar namanya di panggil, dia pun cept-cepat bergegas menemui ayahnya. Jika tidak, maka dia akan mndapatkan masalah lagi.

“Ada apa yah?” tanya Zahra setelah menemui ayahnya.
“Kamu itu tidak punya telinga ya? Dari tadi di panggil tidak datang-datang” Sentak ayah
‘selalu seperti ini’ batin Zahra.
“Maaf yah Zahra tadi masih shalat” jawab Zahra.
“Maaf maaf saja yang bisa kamu katakan! Sudah sekarang cepat buatkan ayah kopi!” Perintah ayah.
“Iya yah”

Zahra pun pergi membuatkan kopi.
“Ini yah kopinya”.

Zahra meletakkan kopinya di atas meja, dan tidak ada jawaban dari ayahnya kemudian dia pun pergi menuju kamarnya. Kemudian dia berfikir jika ayahnya tidak memberikan izin padanya, maka dia akan pergi mencari ibunya secara diam-diam. Dan besok dia akan melancarkan aksinya tersebut, kemudian dia menulis surat untuk ayahnya.

Untuk ayah...
Ayah.. Zahra sayang sama ayah.. Zahra tidak mau lagi ayah marah-marah sama Zahra.. Ayah.. Zahra ingin seperti yang lain, bisa bersama ibu dan merasakan kasih sayangnya.. Maka dari itu, Zahra besok akan pergi mencari ibu sampai ketemu dan mengajaknya untuk tinggal bersama kita lagi seperti dulu yah.. 

Ayah.. Zahra ingin ayah selalu menjaga nenek.. Dan ayah harus tetap tersenyum bahagia dan hidup lebih baik lagi, jika Zahra tidak lagi bersama ayah.. Maafin Zahra udah buat ayah susah, selalu buat ayah marah dan kecewa.. Zahra jugabelum bisa buat ayah bahagia..
Ayah.. Maaf dan Terimakasih untuk semuanya..
Untuk mu ayah.. 
Badai tsunami pun tak akan sanggup menghantam kerasnya perjuangan mu..
Putri kecil ayah

Selesai membuat surat, kemudian Zahra melaksanakan shalat isya’. Lalu dia meletakkan surat untuk ayahnya diatas meja belajarnya. Dan tibalah waktunya untuk istirahat, kemudian Zahra membaringkan tubuhnya dan do’a pun selalu terucap sebelum dia tertidur. Beberapa menit kemudian matanya pun mulai terpejam dan nafasnya terdengar mulai teratur.

oOo

Pagi telah datang menggantikan malam. Zahra sudah terbangun sejak tadi dan sudah menyelesaikan pekerjaannya sebelum dia pergi secara diam-diam, shalat pun tidak di lupakannya. Ini waktu yang tepat. Zahra mengambil tas ransel kemudian di gendongnya. Berjalan perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara sedikit pun. Yang akan menganggu penghuni rumah yang masih tertidur lelap.

“Huuuuuuuuuuh.. Akhirnya aku bisa bernafas lega, setelah mengendap-endap seperti pencuri”. Kata Zahra dengan wajah yang tersenyum puas melihat hasil usahanya bisa berjalan lancar. 

“Ayah.. Nenek.. Zahra janji, Zahra pasti bisa membawa ibu kembali bersama kita lagi.. Zahra pergi dulu.. Selamat tinggal”. Kata Zahra sedih.

Lalu Zahra pergi meninggalkan halaman rumahnya. Semenjak ayahnya berpisah dengan ibunya, membuat ayah Zahra menjadi bersikap kasar. Namun sebenarnya ayah sangat menyayangi Zahra dan tidak ingin kehilangan orang yang berharga lagi dalam hidupnya.

oOo

Karena sudah mendapatkan informasi tentang ibunya dan alamat rumahnya, maka Zahra berani nekat mencari ibunya. Langkah kakinya terus membawa Zahra menuju alamat yang tertera di dalam kertas yang dipegangnya. Dan terhenti lah langkah kaki Zahra didepan rumah mewah yang di pagari dengan besi yang tinggi. 

“Apakah benar ini rumah ibu ya?” Kata Zahra dalam hati.
“Lalu bagaimana caranya masuk dan mencari ibu? Kalau memanjat pagar ini terlalu tinggi dan nanti aku bisa di marahi oleh satpam yang di sini lalu di usir pergi”.
“Tidak.. tidak.. kalau seperti itu sia-sia sudah semua usaha ku “

(Pikir Zahra menimbang apa yang akan dia lakukan sekarang) Tak beberapa lama kemudian, terlihat keluarga kecil keluar dari dalam rumah tersebut.
“Ibuu...” Ucap Zahra lirih melihat sang ibu, kerena begitu haru dan bahagianya Zahra sampai-sampai matanya berkaca-kaca.

Perasaan kecewa dan sedih muncul begitu saja karena melihat ibunya tersenyum bahagia dengan keluarganya yang sekarang. Zahra pun tak bisa berharap apapun dengan ibunya, apa lagi membawa ibunya kembali. Karena dia tak ingin merusak kebahagiaan ibunya. Dengan langkah gontai, Zahra pergi meninggalkan rumah ibunya tersebut dengan fikiran kosong. Karena melamun, Zahra tidak melihat jalan yang dia lewati. Terlihat dari arah yang berbeda,sebuah truk sedang melaju dengan kecepatan tinggi.

BRUUUUUUUUK. Tubuh Zahra terpental jauh dan darah segar mengalir di kepala Zahra.
“Ayah..” kata Zahra lirih sebelum kesadarannya menghilang dan sayup-sayup terdengar suara riuh orang berteriak hingga matanya pun terpejam.

Ibu Zahra terkejut dengan suara dari arah jalan, karena merasa penasaran kemudian menghampiri asal suara tersebut.
“Ada apa pak..?” Tanya ibu Zahra kepada salah satu orang yang ada disana.
“Tadi ada seorang perempuan yang tertabrak truk bu, sepertinya dia tidak melihat dan wajahnya terlihat murung” Jelas orang tersebut.

Dengan penasaran ibu Zahra melihat perempuan dengan tubuh berlumuran darah yang tergeletak di pinggir jalan. Ibu Zahra merasa tidak asing dengan wajah perempuan tersebut dan tersadar kalau sebenarnya anak perempuan tersebut adalah anak kandungnya.

“Zahraaaaa..!! bangun nak ini ibu.. tolong bawa anak saya masuk ke dalam mobil pak”

oOo

Sesampainya di rumah sakit, Zahra langsung di bawa ke ruang UGD. Dan sambil menunggu, ibu Zahra pun mengabari ayah dan neneknya. Tak beberapa lama kemudian, ayah dan nenek Zahra sampai di rumah sakit. Bersamaan dengan dokter yang keluar dari ruang UGD.

“Bagaimana keadaan putri saya dok?” tanya ayah
“Dia sekarang dalam keadaan kritis karena kehilangan banyak darah dan kemungkinan hidup hanya 30% saja pak”
“Tidak mungkin dok,dokter pasti sedang berbohong kan?” kini giliran nenek yang bertanya.
“Tidak.. kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun kami tidak bisa berbuat lebih.. Bapak dan ibu harus kuat” kata dokter. 
“Terimakasih dokter” kata nenek.

Lalu ayah, ibu dan nenek Zahra masuk kedalam ruang UGD. Dan mereka tak kuasa menahan tangis melihat Zahra terbaring lemah dengan berbagai macam alat kedokteran yang menempel di tubuhnya. 

Perlahan mata Zahra terbuka dan melihat melihat ayah, ibu dan neneknya mengelilingi Zahra.
“Ayaah.. Ibu.. Neneek..” ucap Zahra lemah dan sangat lirih.
Air mata ibunya pun mengalir semakin deras mendengar suara Zahra.

“Iya nak ini ibu.. kamu jangan banyak berbicara dulu, kedaan mu masih lemah nak..”ucap ibu

“Tidak apa-apa bu.. Ayaah, maafin Zahra yah.. Nenek.. Ibu maafin Zahra juga.. Zahra sayang sama kalian.. Zahra sudah lelah.. Zahra sekarang ingin istirahat dulu”

Cerpen Remaja Terbaru, Ayah... Aku Ingin Seperti Mereka

“Jangan berbicara seperti itu Zahra, kamu pasti kuat.. Maafin ayah selama ini selalu marah-marah sama kamu..” kata ayah.
“Asyhadu.. Alla... Illa.. Haa.. Illallah..” Kalimat syahadat keluar dari mulut Zahra dalam satu tarikan nafas.
“Zahraaaaaaaa..”
“Zahra bangun nak jangan tinggalkan ibu..”
“Zahraaa.. Banguuun...”

Teriak ayah - Cerpen Remaja Terbaru, Ayah... Aku Ingin Seperti Mereka, nenek dan ibu Zahra saat melihat Zahra menutup mata untuk selamanya. Senyum terukir pada wajah yang putih pucat milik Zahra. Bunyi suara mesin deteksi jantung dan tangis pun memenuhi ruangan tersebut. 

“Kamu anak yang baik Zahra, kami di sini akan selalu mendo’akan mu dan mengingatmu” kata nenek.

Setelah kepergian Zahra, ibu dan ayahnya pun sudah saling memaafkan dan menjalani kehidupan mereka masing-masing. Dan selalu mendo’akan Zahra.

Selesai

Cerpen Remaja Terbaru, Ayah... Aku Ingin Seperti Mereka Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Duwa Ananda