Saturday, October 31, 2015

Cerpen Terbaru, Fajar Tak Usai di Ujung Jalan

Cerpen Terbaru, Fajar Tak Usai di Ujung Jalan - Lama sekali sepertinya kita tidak membaca cerita pendek terbaru sebagai hiburan. Karenanya kali ini kita akan menyuguhkan sebuah cerpen terbaru yang bisa dijadikan teman di kala senggang. Cerpen berikut ini merupajan cerpen remaja sekolah yang sangat bagus yang ditulis oleh rekan pelajar.

Ceritanya sangat menarik, dan bahasa yang digunakan unik dan sederhana sehingga mudah dimengerti bagaimana jalan ceritanya. Yang jelas, cerpen ini memang akan menjadi contoh cerpen terbaru bagus yang menjadi rekomendasi untuk kita baca. Penasaran bagaimana jalan cerita dari cerpen berjudul "Fajar tak usai di ujung jalan" tersebut? Mari kita bersama-sama baca saja langsung cerpen selengkapnya di bawah ini.

Fajar Tak Usai di Ujung Jalan
Oleh Dimas Panggih Amukti

Tatapan mata si gadis tak juga hilang dalam ingatanku, seolah tak mau pergi bayangannya. Kejadian dua minggu yang lalu telah membutakan pikiranku, pertemuan di gerbong kereta itu memanglah suatu hal yang tidak di sengaja. Namun telah membuat pikirannku penuh olehnya. “Seandainya waktu itu Aku sempat berkenalan dengannya” pikirku dengan agak menyesal.

Seperti biasa Aku berangkat kuliah dengan waktu yang sama seperti dua minggu yang lalu, niatku hanya ingin berjumpa kembali dengan si Gadis manis itu dan Aku sekarang berdiri di dekat pintu gerbong kereta, namun tak juga ada tanda-tanda bahwa dia akan lewat. Saat kereta hampir berjalan, dari jauh terlihat ada seorang gadis berlari dengan tergesa-gesa dan mendekat menuju pintu masuk kereta. Sampai akhirnya masuk kedalam kereta dan duduk tepat disebelahku. Terkejut aku ternyata dia adalah si Gadis manis yang ku nanti-nanti sejak tadi. Ku sapa dia dengan sopan.

“Assalamualaikum Ukh, masih ingatkah dengan saya?” terdengar awal mula yang cukup baik
“Waalaikumsalam ya Akhi, na’am saya masih ingat”jawabnya membuatku merasa senang karena dia masih ingat

“Afwan, jika boleh tahu siapa nama Ukhti?” tanyaku dengan berani
“Zahra Husna Salsabila, panggil saja Zahra” jawab si Gadis dengan senyuman yang manis mempesona
“Subhanallah, sungguh nama yang indah sama seperti orangnya saja” pujiku kepada Zahra
“Amin ya Rabb, jazakillah ya akhwan” jawabnya dengan tersipu malu

“Oh iya, nama saya Hafidz Rafi Aziz, biasa di panggil Hafidz namun salah seorang sahabat saya memanggil saya dengan sebutan Fatih yang tidak memiliki arti tertentu. Dan orang tua saya berharap saya dapat menjadi hafidz Al-Qur’an. Amin ya Rabb” jelasku sekaligus curhat yang tak di sengaja kepada Zahra.

Mendengar itu Zahra hanya tersenyum lebar dan menjawab doa dan perkataanku itu. Sekarang aku merasa semakin lebih dekat dengan gadis soleha ini. Setelah 20 menit perjalanan kami tempuh, kereta berhenti di stasiun Semanggi dan ternyata Zahra bersiap-siap akan turun.

“Afwan, Hafidz saya sudah sampai di tujuan saya, Assalamualaikum” pamit Zahra kepadaku. 

“Walaikumalam ya Ukhti Zahra. Hati-hati di jalan semoga kita bias bertemu kembali di lain waktu” jawabku smbil berharap akan adanya pertemuan dan perkenalan selanjutya.

Setelah turunnya Zahra dari kereta , membuatku angin lebih tau di mana kampus tempat ia menuntut ilmu hal ini pun membuatku mengikuti Zahra secara diam-diam seolah sepeti detektif Conan yang sedang menjalankan misinya untuk memecahkan sebuah misteri. Setelah aku mengikutinya kini Aku tahu bahwa dia adalah salah satu mahasiswi di Universitas Indonesia

. Saat di perjalanan pulang ,tak jauh dari kampus Zahra Aku melihat sosok pemuda sedang duduk sendirian , tampak dari jauh aku seperti mengenalnya. Sosoknya sangat mirip dengan sahabat lamaku Husain.

“Assalamu’alaikum mas, kalau boleh tau apakah benar Mas bernama Husain Al-Fikri?” Tanyaku dengan menyebutkan nama lengkapsahabatku.

“Wa’alaikumsalamwr.wb , Emm iya mas benar sekali, jika boleh tau mas ini siapa ya?” Tanya balik pemuda tersebut.
“Subhannallah Husain, ini Aku Fatih sahabatmu, ingatkah?”dengan senang langsung kupeluk dirinya.

“Masyaallah Fatih, Tak paham aku sama kamu, makin rupawan saja kau. Kemana saja selama ini? Dan bagaimana dengan kabarmu dan kedua orang tuamu?” Tanya Husain dengan nada terkejut.

“Alhamdullah baik sob, 2 tahun yang lalu Aku kembali ke Jakarta setelah ama mengejar ilmu di Pondok Pesantren Tebu Ireng (Cerpen Terbaru, Fajar Tak Usai di Ujung Jalan). Kedua orang tuaku sehat semua sekarang mereka masih ada di Yogyakarta. Lantas bagaimana keadaanmu dan Kakek Nenekmu di rumah?” ucapku seraya bertanya kepada Husain.

“Alhamdulillah keadaanku dan kakek nenekku baik-baik saja namun tetap begini tetap hidup sederhana tidak naik-naik” kami pun serentak tertawa bersama

“Sedang apa kau di sini?” tanyaku penasaran

“Aku hanya sedang menikmati apa yang telah di berikan Allah terhadapku dan kebetulan aku juga menjadi mahasisawa ilmu hukum S2 di univeritas ini, makanya ku pilih mensyukurinya dengan duduk di sini (masjid)” jawab Husain yang tidak berupah sifat qonaahnya dari pertama ku kenal dia. Rupanya Husain satu kampus dengan nona cantik Zahra Husna Salsabila.

“Masyaallah, sungguh hebat kau bisa menjadi seorang mahasiswa ilmu hukum S2 di universitas sebesar ini.”kagumku terhadap Husain semakin kuat setelah mendengar ceritanya.

Beberapa jam kami duduk dan asik berbincang-bincang saling mengenang masa lalu kami yang rupanya tiada habisnya kalo diceritakan seharian. Setelah lama kami berbincang , pembicaraaan pun mulai mengarah terhadap permasalahan perempuan.

“Oh iya, Sekarang siapa pacar atau calon istrimu sob?” tanyaku spontan kepada Husain dengan muka yang agak serius.

“Hahahaha, kuliahku aja belom kelar dan pekerjaanku aja belum tetap mana bisa aku memikirkan pacar atau calon istri kalau kamu udah punya belom sob” jawab Husain dengan tidak serius dan tertawa kecil

“Kalo aku belum punya , tapi aku sudah punya cewek yang aku sukai, ternyata dia juga kuliah di sini juga.” Jawabku dengan percaya diri

“Oh iya benarkah?, siapakah gerangan yang telah bisa membuat sahabatku ini mengalami jatuh cinta?,” tanya husain dengan penasaran 

“Gadis itu adalah Zahra Husna Salsabila, mana dia cantik dan solehah lagi sungguh benar-benar cewek idaman dunia akhirat”jelasku

Mendengar nama itu tampaknya Husain langsung terdiam dia tak menyangka bahwa sahabatnya suka dengan gadis yang sama yang dia sukai juga

“Kawan, kenapa diam? Kenalkah kau denganya?” tanyaku menyelidiki

“Eh, iya Aku juga kenal dia, dia juga adalah Aktivis yang aktif di kampus dalam bidang agama sama dengan aku fidz” jawab Husain dengan agak gugup.

“Hmm, Doain aku ya ! agar aku bisa mendapatkan hatinya” jawabku dengan keyakinan yang kuat.

“So pasti aku akan mendoakan semua yang terbaik untukmu, karena kamu adalah sahabat terbaikku selama ini” kata Husain. Padahal di dalam hatinya ada rasa panas yang membakar perasaannya, karena dia akan bersaing engan sahabat karib yang dia sayangi.

Akhirnya pembicaraan kami puntidak tentang masalah perempuan dan berganti dengan membicaraan hal-hal lucu yang dulu kita alami bersama.

oOo

Tepat 8 tahun yang silam tragedi itu masih terbayang dalam memori ingatan Husain yang membuat hatinya terasa kosong. Kecelakaan yang menimpa keluarganya dan membuat dia kehilangan kedua orang tuanya dan adik-adiknya. Setelah itu Husain hidup menjadi yatim piatu bersama kakek dan neneknya yang hanya bekerja sebagai tukang becak dan penjual nasi uduk . walaupun begitu hidup mereka terasa cukup dan kini Husain bisa bersekolah hingga S2 di universitas ternama semua itu berkat kerja kerasnya untuk mendapatkan beasiswa.

Sejak lahir kami tinggal dan di besarkan di daerah yang sama, kebetulan rumah Husain hanya berjarak 3 rumah ke samping kiri dari rumahku. Namun saat Aku memasuki SMA ayahku berpindah tugas di Yogyakarta sedangkan Aku di masukkan ke dalam dunia pondok yaitu pondok pesanteren Tebu Ireng . walaupun kami terpisahkan akan tetapi persahabatan kami tidak pernah putus layaknya Fajar Yang Tak Usai Di Ujung Jalan, seringkali dia selalu menghiasi mimpi-mimpi dalam tidurku.

Setelah satu bulan dari pertemuanku dengan Husain di kampusnya , aku mendapatkan kabar bahwa Husain mengalami kecelakaan lalulintas yang membuatnya harus di rawat di rumah sakit Fatmawati. Dan kabar yang menyedihkan adalah yaitu Husain mengalami cidera yang cukup parah pada penglihatannya yang mengakibatkan ia mengalami kebutaan yang permanen, serta akan mengkandaskan harapan dan cita-citanya untuk bisa menyelesaikan S2-nya

oOo

Sekarang aku sudah menganal semua tentang Zahra karena setiap pagi ketika berangkat ke kampus , selalu ada sesi untuk aku mengintrogasinya lebih mendalam. Aku sangat ingin untuk berbicara seriusdengannya, maka ku beranikan mengiriminya surat untuk bertemu denganku di salah satu restoran dekat kampusnya.

“Hmm, bolehkah aku mengatakan sesuatu hal yang serius terhadapmu?” tanyaku terhadap Zahra

“Tentu saja” jawab Zahra singkat sambil tersenyum terhadapku

“Akumengagumi semua tentangmu, dan kurasa aku telah jatuh cinta terhadapmu, maukah kamu menjadi pendampingku di dunia dan di akhirat kelak?” pintaku terhadapnya. Sejenak dia memalingkan wajahnya yang manis dan sambil tertunduk malu. Suasana menjadi hening seketika.

“Iya insyaallah aku siap menjadi makmummu jika itu karena Allah.” Jawabnya menggoncangkan hatiku seperti goncangan yang terjadi di Aceh 11 tahun silam.

oOo

Akhir-akhir ini badanku mulai tidak kuat melawan penyakit yang menyerang tubuhku, yang menimbilkan rasa sakit yang teramat sangat yang terkadang orang-orang tak pernah mengetahuinya. Dokter mendiagnosa bahwa aku terkena penyakityang serius yaitu gagal ginjal. Tidak ada orang yang mengetahui penyakitku ini kecuali aku, dokter dan Husian sahabatku.

Dua bulan kemudian, aku di rawat di rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa aku memerlukan donor ginjal secepatnya jika aku ingin tetap hidup. Tak kusangka bahwasanya Husainlah yang siap mendonorkan ginjalnya untukku. Namun ku tolak tawarannya karena aku tahu Husain harus tetap hidup untuk menjaga kakek neneknya yang sudah tua renta serta berusaha untuk menyelesaikan kuliahnya dengan membutuhkan donor mata. Esok harinya aku merasakan bahwa ajalku sudah semakin dekat, dan aku memutuskan menulis surat terakhir terhadap sahabatku Husain dan calon tunanganku Zahra. Yang berisi:

Assalamualaikum wr. Wb
Hai Husain sahabat setiaku yang tidak akan pernah tergantikan. Ini adalah surat terakhirku dan sebagai salam perpisahan kita sobat. Terimakasih kalau kau selama ini sudah mau menjadi sahabat setiaku dan menjadi panutanku, maafkan aku sobat jika aku menolak tawranmu karena ginjalmu lebih berguna untu kamu. Aku tidak ingin menambah beban bagimu dengan hidup dengan satu ginjal. Tenang saja sobat persahabatan kita tidak akan berakhir di sini, aku akan menyumbangkan mataku ini untuk kamu agar kmu bisa melanjutkan impianmu, aku minta tolong kepadamu agar kamu menjaga Zahra dengan sebaik-baiknya. Saat ini yang aku perlukan adalah doamu agar kita dapat bertemu kelak di syurga nanti kelak.

Cerpen Terbaru, Fajar Tak Usai di Ujung Jalan

Hai nona cantikku Zahra Husna Salsabila yang aku sayangi. Maaf jika aku tidak mampu untuk menempati janjiku terhadapmu untuk menjadikanmu sebagai makmumku, ku harap tidak ada air mata kesedihan yang menetes dari kedua matamu, akan tetapi yang ku inginkan adalah senyuman keikhlasan untuk merelakan aku pergi terlebih dahulu setelah membaca surat ini. Saat aku pergi nanti aku juga ingin Husain agar dapatkan menggantikan aku dan ku harap kau menerimanya dengan tulus dan ikhlas kerena dia adalah pemuda yang sama sepertiku hampir dalam segala hal. Aku akan tetap dapat melihatmu karena aku akan menyumbangkan mataku kepada Husain. Aku sangat mencintaimu.

Izinkan aku mendapatkan pelukan dalam doa kalian agar aku bahagia di dunia yang kedua nanti. Kini waktuku untuk merasakan semua kebahagiaan yang pertama itu sudah habis. Terimakasih atas segalanya.

Hafidz/fatih

Begitulah bunyi surat terakhir Hafidz untuk Husain dan Zahra. Selanjutnya - Cerpen Terbaru, Fajar Tak Usai di Ujung Jalan - Hafidz meninggal dan matanya di donorkan untuk Husain. Setelah Husain lulus S2 dia meminang Zahra dan mereka hidup bahagia sesudah itu.

Cerpen Terbaru, Fajar Tak Usai di Ujung Jalan Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Duwa Ananda