Saturday, October 12, 2013

Resensi Novel Lelaki Tua dan Laut - Ernest Hemingway

Hari ini kita akan belajar membuat sebuah resensi novel yang akan mengupas lebih dalam mengenai novel lelaki tua dan laut karya Ernest Hemingway. Tugas ini biasanya diberikan guru bahasa Indonesia untuk melatih pemahaman kita tentang sebuah karya sastra khususnya novel. Lalu seperti apakah resensi novel, mari langsung dipelajari berikut!

Sedikit mengingatkan, resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya, baik itu buku, novel, majalah, komik, film, kaset, CD, VCD, maupun DVD. Tujuan resensi ini yaitu menyampaikan apakah sebuah buku atau hasil karya sastra patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. Resensi sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere yang artinya melihat kembali, menimbang, atau menilai. Arti yang sama untuk istilah itu dalam bahasa Belanda dikenal dengan recensie, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review.

Sedangkan yang termasuk di dalam unsur-unsur resensi menurut Daniel Samad (1997: 7-8) yaitu:

Membuat judul resensi

Menyusun data buku

3. Membuat pembukaan

4. Tubuh atau isi pernyataan resensi buku

5. Penutup resensi buku

Setelah sedikit mengulas mengenai apa itu resensi mari langsung kita lihat sebuah contoh resensi karya salah satu rekan kita. Resensi tersebut mengupas mengenai salah satu novel karya Ernest Hemingway. Berikut resensi selengkapnya.

Resensi Novel Lelaki Tua dan Laut 

Identitas Buku
Judul Novel: Lelaki Tua dan Laut
Nama Pengarang: Ernest Hemingway
Nama Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Tahun Terbit: 2009

Unsur-Unsur Intrinsik
Tokoh & Wataknya:
1. Lelaki Tua/Santiago: Sabar, kegigihan, berjuang tanpa menyerah
2. Anak Lelaki: Suka Menolong, baik hati, anak patuh dll

Alur Cerita: Alur Maju
Latar: Di perairan arus teluk, Gubuk, Tengah laut, dll
Tema: Perikanan, Laut
Amanat: Kita harus tetap bersabar menghadapi berbagai cobaan dan kita harus berjuang dengan gigih serta semangat tinggi dan tanpa menyerah untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan.

Ringkasan Cerita
Lelaki Tua dan Laut mengisahkan ulang tentang perjuangan kepahlawanan antara seorang lelaki nelayan tua yang berpengalaman dengan seekor ikan marlin raksasa yang disebut sebagai tangkapan terbesar dalam hidupnya. Cerita diawali dengan cerita bahwa nelayan yang bernama Santiago tersebut telah melewati 84 hari tanpa menangkap seekor ikan pun (kemudian disebutkan dalam cerita ternyata 87 hari). Dia tampaknya selalu tidak beruntung dalam menangkap ikan sehingga murid mudanya, Manolin dilarang oleh orangtuanya untuk berlayar dengan si lelaki tua dan diperintahkan untuk pergi dengan nelayan yang lebih berhasil. Masih berbakti kepada si lelaki tua tersebut, Manolin mengunjungi gubuk Santiago setiap malam, mengangkat peralatan nelayannya, memberinya makan dan membicarakan olah raga bisbol Amerika dengan si lelaki tua. Santiago berkata pada Manolin bahwa di hari berikutnya dia akan berlayar sangat jauh ke tengah teluk untuk menangkap ikan, dan dia yakin bahwa gelombang nasibnya yang kurang beruntung akan segera berakhir.

Maka di hari ke-85, Santiago berlayar sendirian, membawa perahu kecilnya jauh ke tengah teluk Meksiko. Dia mengatur kailnya, dan di siang selanjutnya, seekor ikan besar yang dia yakin adalah seekor ikan marlin menggigit umpannya. Santiago tidak dapat menarik ikan tersebut, malah mendapati perahu kecilnya yang justru ditarik oleh sang ikan raksasa. Dua hari dua malam lewat dalam situasi tersebut, dan selama itu si lelaki tua menahan tali jeratnya dengan tenaganya sendiri dengan susah payah. Walaupun dia sangat kesakitan dan terluka dalam perjuangannya, Santiago merasakan rasa kasih, haru dan penghargaan untuk lawannya, kerap menyebut sang ikan sebagai saudaranya. Dia juga memutuskan bahwa karena martabat besar sang ikan, tak ada seorang pun yang layak untuk memakan ikan tersebut.

Di hari ketiga perjuangannya, sang ikan mulai mengitari perahu kecilnya, menunjukkan kelelahannya pada si lelaki tua. Santiago, sekarang telah kehabisan tenaga, mulai mengigau, dan hampir tidak waras, menggunakan seluruh sisa tenaga yang masih dimilikinya untuk menarik sang ikan ke sisi perahunya dan menikam sang marlin dengan sebuah harpun, dengan demikian mengakhiri perjuangan panjang antara si lelaki tua dan sang ikan yang sangat kuat bertahan.

Santiago mengikat bangkai sang marlin di sisi perahu kecilnya dan mulai berlayar pulang, berpikir tentang harga tinggi yang akan diberikan sang ikan di pasar ikan dan jumlah orang yang dapat menikmati hasil tangkapannya tersebut. Selama Santiago melanjutkan perjalanannya pulang ke tepi laut, ikan-ikan hiu mulai tertarik dengan jejak darah yang ditinggalkan sang marlin di air. Yang pertama adalah ikan hiu mako yang dibunuh Santiago dengan harpunnya, menyebabkan dia kehilangan senjata tersebut. Dia kemudian merakit sebuah harpun baru dengan mengikat bilah pisaunya ke ujung sebuah dayung untuk mengusir pergi hiu-hiu yang berdatangan selanjutnya. Lima hiu dibunuhnya dan banyak hiu lain yang akhirnya pergi. Di malam harinya hiu-hiu tersebut telah melahap habis seluruh bangkai sang marlin, meninggalkan hanya kerangka tulang punggung, ekor, dan kepalanya, di mana di kepalanya masih tertancap harpun nelayan si lelaki tua. Santiago sangat sedih dan menghukum dirinya sendiri karena telah mengorbankan sang marlin, dan akhirnya sampai di tepian laut sebelum subuh keesokan harinya. Dia berjuang untuk berjalan menuju gubuknya, membawa tiang kapalnya yang berat di atas pundaknya. Setelah tiba di rumah, dia merebahkan dirinya di tempat tidur dan masuk ke dalam tidur yang panjang.

Keesokan harinya sekelompok nelayan berkumpul di sekeliling perahu yang mana kerangka sang ikan masih terikat. Salah satunya mengukurnya sepanjang 18 kaki dari moncong ke ekornya. Bahkan para turis yang duduk di kafe dekat di situ salah menyangkanya sebagai ikan hiu. Manolin yang terus khawatir selama perjalanan si lelaki tua, menangis terharu saat dia mendapati Santiago sedang tertidur lelap. Anak laki-laki itu kemudian membawakan surat kabar dan kopi untuk si lelaki tua. Saat Santiago terbangun, Manolin berjanji untuk pergi menangkap ikan bersama-sama lagi dengan gurunya tersebut, dan saat kembali tidur, Santiago kemudian bermimpi tentang singa di pantai Afrika.

Itu tadi sebuah referensi mengenai tugas untuk resensi mata pelajaran bahasa Indonesia. Semoga dengan contoh kali ini kita semua akan lebih memahami dan lebih pintar lagi dalam membuat resensi. Sampai disini, semoga bermanfaat.

Resensi Novel Lelaki Tua dan Laut - Ernest Hemingway Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Siti Marwiyah