Friday, August 3, 2012

Hasil Budaya Dari Manusia Purba Di Indonesia

5:12 AM By Kumpulan Tugas

Hasil Budaya Dari Manusia Purba Di Indonesia

Mempelajari hasil kebudayaan dapat memberikan pemahaman akan kehidupan di masa sejarah untuk itu materi kali ini kita akan membahas sejarah yaitu mengenai Hasil Budaya Dari Manusia Purba di Indonesia. Banyak peninggalan hasil budaya yang bisa ditemukan di Indonesia yang menggambarkan kehidupan tempo dulu, lebih jelasnya tentang hasil budaya manusia purba silahkan ikuti pembahasan berikut ini.

1. Budaya Pacitan 

Kapak perimbas adalah kapak yang digenggam dan berbentuk massif. Dengan membandingkan bukit-bukit yang ada di Cina, maka kapak perimbas pendukungnya Pitechanthropus. Movius berpendapat, bahwa di Asia Timur berkembang budaya paleolithik yang berbeda dengan corak yang berkembang di Eropa, Afrika, Asia bagian barat termasuk India. Movius juga menggolongkan budaya kapak menjadi empat jenis yaitu:

a. kapak perimbas (chopper)
b. kapak penetak (chopping tool)
c. pahat genggam (hand axe)

Bahan batu yang digunakan di Indonesia adalah jenis batuan kapur, kersikan, tufa. Di Indonesia alat-alat tersebut paling banyak dan paling lengkap ditemukan di Pacitan. Sarjana yang telah mengadakan penelitian antara lain: Von Koenigswald, MHF. Tweedie, Van Heekeren, dan R.P. Soejono.

Alat-alat Pacitan yang dikumpulkan oleh Von Koenigswald dan digolongkan oleh Movius adalah:
a. kapak perimbas
b. kapak penetak
c. pahat genggam
d. proto kapak genggam
e. kapak genggam
f. alat serpih
g. batu inti dan aneka ragam alat lainnya.

2. Budaya Ngandong

Alat-alat dari tulang ditemukan di Ngandong dan Sidorejo dalam konteks Pitechanthropus Soloensis. Alat-alat ini dibuat dari tulang, tanduk menjangan, dan dari ikan pari dalam bentuk mata tombak, pisau, belati, mata panah. Sedang alat serpih digunakan sebagai pisau, gurdi, dan alat penusuk.

3. Temuan dari Bali dan Nusa Tenggara

R.P. Soejono mengadakan penelitian paleolithik di Sembiran, Bali. Jenis budaya paleolihik yaitu sebagai berikut:
  1. kapak perimbas, alat ini berpenampang lintang trapesium dan tidak ada tanda sudah dipakai, tergolong serut, tajam sebelah, dibuat dari batu kerakal atau pecahan batu. 
  2. Pahat genggam, berbentuk agak persegi berukuran sedang dan kecil. 
  3. Serut pundak, termasuk alat paleolithik yang khusus, belum banyak ditemukan di Indonesia. Berbentuk telapak kuda, tajam berbentuk setengah lingkaran. 
  4. Proto kapak genggam, dibuat dari batu kerakal, bidang bawahnya diratakan, bidang atas meruncing, dan kulit baru tersebut pada genggaman. 
  5. Batu-batu inti, batu martil dan jenis-jenis serut lainnya. 
T. Verhoeven yang mengadakan penelitian di Flores, lokasi alat-alat paleolithik di Wangka, Soa, Mangeruda, Olabula dan Maumere, bentuknya berupa kapak perimbas, kapak penetak, pahat genggam dan proto kapak genggam.

4. Temuan dari Kalimantan dan Sulawesi

Di Kalimantan dilakukan penyelidikan oleh Toer Soetardjo, H. Kupper, Van Heekeren dan didapatkan budaya kapak perimbas dan alat serpih yang terbuat dari kerakal kuarsa dan varian jaspis. Sedangkan di Wallace dan Cabbenge (Sulawesi Selatan) ditemukan alat-alat serpih terbuat dari batu kalsedon dan batuan gamping kersikan. Penelitian dilakukan oleh Van Heekeren.

5. Temuan di Sumatra

Houbolt menyelidiki ditambang sawah dan menemukan proto kapak genggam. Sedangkan di Bungamas (Lahat) didapatkan alat-alat dari batu seperti serut, kapak penetak, pahat genggam dan kapak genggam.

6. Masa Berburu dan Berpindah-Pindah Tingkat Lanjut

Penemuan kebudayaan masa ini tersebar di Indonesia seperti di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Flores. Dari penemuan kebudayaan kita mendapat kesimpulan bahwa sudah ada tanda-tanda hidup yang sudah menetap yakni digoa-goa (abris sous roche).

Van Heekeren mengadakan penelitian di Karrasa, Panameanga, dan Pattae (Sulawesi) dan berdasarkan temuannya Heekeren membedakan tiga lapis kebudayaan, yaitu:
  1. Toala I atau Toala Atas, berupa mata panah bersayap dan bergerigi, serut kerang, dan gerabah. 
  2. Toala II atau Toala Tengah, berupa bilah, mata panah berpangkal bundar, dan alat-alat mikrolit. 
  3. Toala III atau Toala Bawah, berupa serpih dan bilah yang agak besar diantaranya serpih berujung cekung, dan serpih bergagang. 
Di kepulauan Nusa Tenggara Timur, tradisi serpih bilah ditemukan di Flores, Roti, dan Timor. Alat penting yang lain berupa sampah dapur (kjokkenmodinger) yang berisi kulit-kulit kerang yang ditemukan di Sumatra Timur. Hasil budaya lain berupa flake (serpihan). Alat ini ditemukan di goa-goa yang memberikan petunjuk bahwa manusia yang hidup dimasa mesolithikum telah hidup di goa. Flake banyak terbuat dari batu berharga atau yang disebut obsidian.

7. Alat Tulang

Tradisi ini berasal dari Vietnam dan Annam, akhirnya sampai ke Jawa Timur. Bentuk alat tersebut seperti bilah, sundip, belati, lancipan, anak panah, dan sumpitan. Penemuan yang terkenal adalah di goa Lawa (Ponorogo). Daerah lain yang sejenis di Goa Lawa adalah Bojonegoro, Tuba, Besuki, dan Bali.

8. Kapak Genggam Sumatra

Tradisi ini berasal dari Asia Tenggara melalui semenanjung Malaya sampailah di Sumatra. Di Sumatra didapatkan di Lhokseumawe, Binjai dan Tamiang, terbuat dari batu andesit, batu pasir, dan batu kuarsit. Kapak sumatra didapatkan cukup banyak dalam bentuk lonjong, bulat dan lancip.

9. Jalur Penyebaran Manusia Purba Dan Hasil Budayanya Di Indonesia

Secara umum jenis-jenis manusia purba di Indonesia yang hidup dijaman Pleistosen dapat digambarkan melalui bagan berikut:

Holosen
Homo Sapiens
Pleistosen Atas (Lapisan Ngandong)




Pleistosen Tengah (Lapisan Trinil)


Pleistosen Bawah (Lapisan Jetis)
Homo Wajakensis

Homo Soloensis yang ditemukan oleh Von Koenigswald dan Weidenreich

Pitecanthropus Erectus yang ditemukan oleh E. Dubois

Pitecanthropus Robustus

Pitecanthropus Mojokertensis

Meganthropus Paleojavanicus yang ditemukan oleh Von Koenigswald

Pustaka


Lihat juga tugas...!