Monday, October 31, 2016

Malam, Ku Rindu Belaian Ayahku

Jauh di lubuk hati yang dalam, seorang gadis kecil menjerit merindukan kasih sayang sang ayah yang harus berpisah dengan ibunya. Di dalam cerpen keluarga berikut ini anda akan mendapatkan kisah yang begitu menyentuh hati, begitu menyayat.


Cerita berikut ini adalah sebuah contoh cerita cerpen dengan tema anak yang orang tuanya bercerai. Tentu saja, melihat tema utamanya, kisah yang diangkat adalah sebuah cerpen sedih tentang keluarga yang berantakan. Lebih tepatnya tentang kesedihan dan kerinduan anak terhadap ayahnya.

Dengan kisah yang dimiliki, cerpen anak yang sedih ini tidak terlalu panjang, bahkan bisa dikatakan cukup singkat. Cerpen ini hanya fokus pada satu kejadian sederhana yang dialami oleh seorang anak perempuan.

Tidak terlalu ada dramatisasi, tidak terlalu ada ketegangan cerita namun kisahnya lebih menekankan suasana murung dan duka. Sebuah kerinduan yang mungkin cukup besar harus ditanggung gadis remaja yang orang tuanya berpisah dan ia hidup bersama ibunya.

Sampai-sampai, ia selalu larut dalam lamunan dan membayangkan sesuatu yang diinginkan. Contohnya, ucapan selamat tidur yang diucapkan oleh sang ayah, ia merindukan hal kecil seperti itu yang memiliki makna besar bagi perasaannya. Langsung nikmati ceritanya ya.

Malam, Ku Rindu Ayahku
Kisah Sedih Korban Keluarga Broken Home

Malam ini hujan datang lagi. Membawa sebuah kenangan cerita 5 tahun yang lalu. Saat semua nya masih indah. Saat semua masih utuh. Keluarga yang lengkap dengan seorang pria hebat sebagai pemimpinnya.

Malam ini aku duduk di ruang tamu. Mataku melihat keluar jendela dimana butira-butiran air hujan jatuh dari langit. Aku teringat kejadian beberapa tahun yang lalu. Ketika mereka berdua sedang beradu mulut. Beradu ideologi, dan juga saling beradu gagasan.

Meski sampai sekarang aku masih belum mengerti, bagaimana bisa semudah itu mereka menghancurkan sesuatu yang sudah mereka bangun. Aku memang tidak tahu pasti bagaimana proses mereka membangun keluarga ini.

Tapi aku yakin sekali, pasti butuh banyak perjuangan juga pengorbanan untuk bisa membangun sebuah keluarga. Meskipun pada akhirnya sesuatu yang mereka perjuangkan harus hancur ditangan mereka sendiri.

Saat tenggelam dalam lamunanku, tiba-tiba ada suara dari ujung dapur memanggil ku. “Mel, Meli… cepat makan, kerjakan tugasmu, dan tidurlah”.

Ibuku memanggilku dan memberikan beberapa perintah untukku. Aku tau pasti berat rasanya membesarkan seorang anak tanpa didampingi seorang pria. Sejak berpisah, ibuku selalu saja khawatir denganku.

Ia takut aku akan tumbuh menjadi orang yang tidak disiplin karena tidak ada pria tegas yang membesarkanku. Dan karena alasan itulah dia selalu berusaha untuk menjalankan peran ganda.

Yakni sebagai ibu yang lemah lembut dan juga ayah yang disiplin dan tegas. Meski kadang ia lupa dan terlalu berlebihan ketika ia berusaha menjadi seorang ayah.

“Iya bu, ini Meli mau makan.” Jawabku. Aku pun berjalan ke dapur dan mengambil makananku. “Kamu itu harus makan yang banyak, belajar yang benar, supaya kalau besar nanti bisa jadi orang yang berguna”, ceramah ibuku.

“Iya bu”, aku pun menjawab sekenanya. Setelah selesai makan, aku langsung pergi ke kamarku untuk menyelesaikan tugas sekolah. Sebelum mulai mengerjakan tugas sekolaku, aku sempatkan untuk melihat layar ponsel ku.

Ada satu pesan yang masuk. Dan pesan itu datangnya  dari Rendi. Ku buka pesan itu. Pesan rendi berisi hanya berisi ucapan selamat tidur dan ucapan agar aku selalu menjaga kesehatanku.

Hampir setiap malam Rendi mengirim pesan seperti itu untukku. Aku tidak begitu mengerti kenapa Rendi masih tetap saja mengirim pesan seperti itu walaupun aku sama sekali tidak pernah membalasnya.

Aku tutup handphone ku. Aku mulai mengambil buku di tasku dan mulai mengerjakan tugas-tugas sekolahku. Belum selesai aku mengerjakan tugasku, entah kenapa aku teringat dengan sosok ayahku.

Ingin sekali rasanya aku bisa duduk bersama dengannya. Berkeluh kesah tentang kehidupanku disekolah. Berkeluh kesah tentang rendi, tentang ibu, teman-temanku dan semua yang selalu mengganggu pikiranku.

Karena merasa tidak fokus, akhirnya aku menutup buku ku tanpa menyelesaikan tugas-tugas sekolahku. Aku beranjak dari kursi dan berjalan menuju kamar. Ku tarik selimut dan ku pejamkan kedua mata.

Belum sempat aku tertidur, aku mendengar suara kaki yang berjalan kearahku. Aku tahu itu ibuku. Dia duduk dipinggiran kasurku. Tangan lembutnya perlahan mengusap rambutku dan kemudian dia berbisik lirih ke arahku.

“Selamat tidur sayang... Bermimpilah yang indah”. Setelah itu dia pergi meninggalkan kamarku. Senang sekali rasanya bisa diperhatikan setiap hari oleh ibu. Namun terkadang ingin sekali rasanya aku mendapatkan ucapan selamat tidur dari seorang ayah.

Ingin sekali rasanya aku mendapatkan perhatian dari seorang ayah. Ayah yang dulu selalu ada disisiku. Yang selalu menggenggam tanganku saat aku lemah. Yang selalu mengelap air mata ku saat aku menangis. Yang selalu merawatku saat aku sakit. Ayah, malam ini aku sangat merindukanmu.

---oOo---

Malam, Ku Rindu Belaian Ayahku Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Duwa Ananda