Thursday, July 10, 2014

Mengenal Peradaban Lembah Sungai Nil

7:51 AM By Kumpulan Tugas ,

Mengenal Peradaban Lembah Sungai Nil. Sungai nil merupakan warisan agung bagi peradaban didaerah sekitarnya, hal ini terbukti dari kayanya peninggalan peradaban lembah sungai nil. Artikel kali ini tentang Mengenal Peradaban Lembah Sungai Nil merupakan bagian pembahasan tentang materi peradaban kuno di dunia. Berikut ulasan lengkap untuk lebih mengenal peredaban sungai nil.

Sungai Nil, memiliki kelebihan tersendiri dibanding sungai-sungai lain di dunia. Di samping panjangnya mencapai 6.670 KM membentang dari selatan ke utara, juga membentang pada garis 3, 30 derajat lintang selatan, sampai 31derajat lintang utara, atau dengan kata lain bahwa sungai ini memotong lebih dari 34,5 derajat garis lintang. Inilah yang membedakan Nil dengan sungai-sungai lainnya di dunia, karena kebanyakan sungai di dunia mengalir ke arah timur atau ke barat. Di samping itu, sungai Nil merupakan sungai yang mengalir melalui daerah-daerah yang beragam dan dengan iklimnya yang bermacam-macam pula.

Di daerah hulu, sungai Nil bersumber dan mengalir dari daerah yang beriklim tropis dan berdataran tinggi. Kemudian melewati beberapa sumbernya yang lain di daerah semitropis. Lalu melewati daerah lembah pegunungan yang beriklim subtropis. Dari arah Ethiopia yang beriklim sub-seasonal, salah satu sumbernya mengalir. Kemudian sungai Nil melewati daerah Sudan yang merupakan daerah yang penuh dengan hujan musim panas dan kekeringan musim dingin. Setelah itu menerobos membelah daerah padang pasir yang ganas, dan bermuara di daerah Mesir yang beriklim laut tengah. Berarti sungai Nil mengalir dari daerah hijau yang terletak pada garis katulistiwa ke daerah padang pasir yang sangat tandus di bagian utara benua Afrika. Dengan begitu, setiap Nil mengalir satu langkah, dia akan kehilangan sebagian airnya. Jadi semakin ke hilir, airnya semakin berkurang. Hal ini berbeda dengan sungai-sungai lain di dunia, di mana semakin ke hilir semakin banyak muatan airnya.



Dengan demikian berarti sumber sungai Nil tidak hanya satu, tapi Nil adalah merupakan tumpahan air dari beberapa sungai dan beberapa danau. Tepatnya, Nil bersumber dari sungai Kagera yang mengalir masuk ke danau Victoria dari arah barat. Sungai Kagera bisa dikatakan sebagai permulaan bagi sungai Nil dan danau Victoria merupakan danau terbesar pertama di benua Afrika, dan kedua di dunia setelah danau Superior di Amerika utara. Kemudian dari danau ini, masuk lagi ke ke danau Kyoga dan danau Albert. Sungai yang membawa air dari Victoria ke danau Albert ini disebut dengan Nil Victoria. Sementara itu, danau Albert juga mendapat saluran air dari danau Edward melalui sungai Smileky. Di danau Albert lah, kedua aliran air yang berasal dari danau Victoria dan danau Edward berkumpul. Dari danau Albert, mengalir satu-satunya sungai yang disebut Nil Albert. Di saat Nil Albert ini mengalir dan seakan sudah kehabisan tenaga dan air lagi, datanglah kekuatan baru, yaitu sungai Subath yang ikut membantu mensuplay air bagi sungai Nil. Sungai Subath sendiri mendapat suplay airnya dari beberapa sumber seperti sungai Baro di Ethiopia, dan aliran air dari danau Rudolf di Kenya. Sungai Nil, dari titik pertemuan antara Nil Albert dengan sungai Subath ini disebut Nil putih. Selanjutnya Nil putih mengalir sampai ke ibu kota Sudan, Khartoum, dan di sana bertemu dengan Nil biru yang bersumber dari Danau Tana dan sungai Athirah. Berkat pertemuan antara dua sungai inilah, maka sungai Nil mendapat bantuan air lagi sehingga dapat melanjutkan alirannya sampai ke laut tengah. Bahkan Nil biru dianggap sebagai nyawa baru bagi sungai Nil putih yang semakin lemah setelah menempuh berkilometer-kilometer jarak. Bisa dikatakan bahwa sungai Nil setelah kota Khartoum sampai ke dataran Mesir, lebih banyak merupakan kelanjutan dari sungai Nil biru ketimbang Nil putih.


Sedangkan Mesir sendiri merupakan salah satu pusat peradaban tertua di dunia yang terletak di ujung Benua Afrika bagian utara. Peradaban Mesir tumbuh dan berkembang di sekitar aliran Sungai Nil yang membentang sepanjang 6.671 km. Orang-orang Mesir diperkirakan telah menempati wilayah tersebut sejak 6.000 tahun sebelum Masehi. Di tempat yang subur inilah nenek moyang bangsa Mesir membangun daerah-daerah pemukiman dan memanfaatkan daerah yang subur tersebut sebagai lahan pertanian. Kesuburan tersebut telah menciptakan kemakmuran penduduk. Selain itu, Mesir secara geografis memiliki perlindungan alam berupa gurun. Gurun Nubia dan Gurun Sahara menjadikan Mesir terlindungi dari ancaman serangan bangsa asing.

Sistem Pemerintahan

Pada awalnya, Mesir kuno terdiri atas desa-desa kecil yang sudah berdiri sendiri, mempunyai peraturan, memiliki sistem pemerintahan sendiri, yang kemudian berkembang menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil tersebut saling berperang untuk memperebutkan kekuasaan tertinggi. Akhirnya, kurang lebih pada tahun 3.400 sebelum Masehi (SM) berkembang dua kerajaan saja, yaitu Kerajaan Mesir Utara dan Kerajaan Mesir selatan. Pada tahun 3.100 SM, Menes, seorang raja yang menguasai Kerajaan Mesir Utara berhasil mempersatukan dua kerajaan tersebut dan membentuk pemerintahan nasional pertama di Mesir.



Menes mendirikan ibukota kerajaannya di Memphis. Raja Menes adalah raja pertama yang mengawali berdirinya dinasti yang disebut Firaun (Pharaoh). Firaun adalah orang yang sangat penting dalam Mesir kuno. Seorang Firaun memiliki kekuasaan yang tidak dapat diganggu gugat dan berlaku untuk seluruh rakyat. Rakyat menyembah Firaun bagaikan menyembah dewa, karena Firaun dianggap sebagai keturunan Dewa Ra (dewa matahari).

Sistem Kepercayaan


Bangsa Mesir kuno mempercayai banyak dewa (polytheisme). Kepercayaan masyarakat Mesir kuno yang paling menonjol adalah kepercayaan terhadap matahari sebagai salah satu kekuatan dewa yang luar biasa. Oleh sebab itu, masyarakat Mesir kuno percaya akan dewa matahari yang bernama Dewa Ra. akhirnya, Dewa Ra diyakini sebagai dewa tertinggi yang dapat mempengaruhi semua aspek alam dan kehidupan manusia. Selain Dewa Ra, masyarakat Mesir kuno juga menyembah dewa-dewa lain, seperti Dewi Osiris yang telah memberikan berkah kesuburan, Dewa Isis sebagai dewa penjaga Sungai Nil, Dewa Anubis sebagai dewa kematian, Dewa Seth sebagai dewa kegelapan, serta Dewa Apis sebagai dewa kekuatan yang menitis kepada hewan seperti kucing, sapi, buaya dan burung belibis.


Di setiap desa dan kota, masyarakat biasanya memiliki dewa utama yang berbeda-beda. Misalnya, masyarakat Kota Thebe memuja dan menyembah Dewa Amun sebagai dewa utamanya. Kemudian Dewa Amun tersebut berkembang menjadi Dewa Amun-Ra. Perwujudan dari semua kepercayaan bangsa Mesir Kuno adalah Mumi. Mumi atau mayat yang diawetkan ini wujud dari kepercayaan masyarakat Mesir kuno terhadap kehidupan setelah mati. Mumi raja disimpan dalam piramid, sedangkan mumi rakyat biasa disimpan dalam gua karang.

Peninggalan Budaya


  • Piramid
  • Sphinx
  • Obelisk
  • Huruf Hieroglif

Aksara

Masyarakat Mesir kuno sudah mempunyai kemampuan mencatatkan pengetahuan dan pengalamannya melalui tulisan. tulisan yang dikembangkan oleh masyarakat Mesir kuno adalah huruh Hieroglif yang berbentuk tulisan gambar (piktograf). Mereka mencatatkan tradisi, gagasan dan temuannya melalui tulisan hieroglif dengan memahatkannya di dinding-dinding makam Firaun. Di samping itu, mereka juga menggunakan alat tulis dari batang papyrus yang banyak tumbuh di sekitar Sungai Nil. Dengan teknik yang baik, batang papyrus tersebut diolah menjadi lebaran-lembaran yang bisa digulung dan untuk tintanya menggunakan campuran getah sayur.

Arsitektur

Peninggalan Mesir kuno dalam bidang arsitektur adalah bangunan-bangunan megah yang berkaitan dengan aspek keagamaan dan ambisi Firaun dalam memiliki bangunan-bangunan yang indah dan megah. Antara lain Sphinx, Piramid dan Obelisk. 



Sistem Penanggalan. Masyarakat Mesir kuno telah memiliki pengetahuan yang tinggi tentang ilmu perbintangan 

Astronomi

Ilmu ini mulanya dipahami dan dipergunakan dalam kehidupan agraris bangsa Mesir. Kemudian, ilmu ini berkembang dan akhirnya digunakan untuk membuat penanggalan atau kalender. Dalam kalender Mesir kuno, sudah ada 12 bulan, tiap bulan dibagi menjadi 30 hari, dan dalam satu masa ditambah 5 hari, sehingga jumlah hari dalam satu tahun menjadi 365 hari. Sistem penanggalan ini juga sudah mengenal tahun kabisat seperti yang kita kenal sekarang.

Lihat juga tugas...!